Oleh: H. Iswan Kurnia Hasan, Lc.MA.
 
 
Dulu, ketika baru masuk pesantren dan mulai mengenal tahun hijriah, saya selalu bertanya dalam hati, “Kenapa Umat Islam tidak merayakan Tahun Baru Hijriah seperti Tahun Baru Masehi”? Terus terang, fenomena peringatan 1 Januari dari dulu begitu gegap gempita. Seluruh dunia seakan tersedot menunggu jam 12 malam berdentang.
 
Kembang api menghiasi angkasa, menandai dimulainya tahun yang baru. Semuanya bergembira. Selalu seperti itu setiap tahun. Lalu kenapa memasuki 1 Muharram tidak ada kembang api? Kenapa tidak ada yang menunggu jam berdentang? Kenapa umat Islam tidak tumpah ruah menyambutnya?
 
Saat ini, setelah berlalu beberapa tahun, saya justru tidak menghendaki peringatan Tahun Baru Islam dilalui dengan pesta pora. Makna agung pergantian tahun dalam kalender Islam harus dimaknai dengan pendekatan yang agung pula. Tidak terkesan meniru tradisi lain.
 
Sebab Masehi berbeda dengan Hijriah, dari tinjauan sejarahnya, dari latar belakang penamaannya, dari keutamaan yang ada di dalamnya. Bahkan dari tradisi yang telah berlaku di dalamnya sejak dulu. Semuanya berbeda. Maka peringatan memasuki Tahun Baru Hijriah juga harus berbeda dengan peringatan memasuki Tahun Baru Masehi.
 
Dari tinjauan sejarah, penanggalan Masehi dicetus oleh Paus Gregorius XIII. Karena ada kekeliruan dalam penanggalan Julian yang telah digunakan sebelumnya sejak zaman Julius Caesar. Paus Gregorius XIII bersama seorang ahli fisika Aloysius Lilius, dan ahli astronomi Christopher Clavius mengembangkan kalender ini selama 5 tahun. Sebelum dikenalkan ke publik. Kalender Masehi juga disebut kalender Gregorian. Awal tahun Masehi merujuk pada lahirnya al-Masîh atau Messias. Hari lahirnya Nabi Isa as..
 
Sementara kalender Hijriah merujuk kepada hijrah Rasulullah saw. dan para sahabatnya, dari Mekkah menuju Madinah. Satu peristiwa agung yang merubah lembah sejarah Islam. Dari ketidakberdayaan menuju kejayaan. Dari kelemahan menuju kekuatan. Dari umat menuju negara.
 
Awal penggunaan kalender Masehi yang digunakan saat ini, dimulai pada tahun 1852. Dengan berpedoman pada waktu yang dibutuhkan bumi berputar mengelilingi matahari. Dari hasil perhitungan, didapat angka 365,25 hari. Sementara penanggalan Hijriah, atau dikenal juga dengan penanggalan Qamariah dimulai pada masa Khalifah kedua, Umar bin Khattab, ra.. Berpedoman pada posisi bulan mengitari bumi dan posisi matahari, yang sering disebut dengan siklus sinodik. Jumlah hari dalam satu tahun lebih sedikit dibanding Masehi. Rerata 354 hari.
 
Awal hari dalam kalender Masehi dihitung saat terbitnya matahari. Jumlah bulan ada 12, dimulai dari bulan Januari. Sementara dalam kalender hijriah, awal hari mulai dihitung dari terbitnya hilal atau setelah matahari terbenam. Sama dengan Masehi, juga memiliki 12 bulan yang dimulai dari bulan Muharram.
 
Karena menggunakan pendekatan solar atau peredaran bumi ke matahari, maka setiap empat tahun sekali ada Tahun Kabisat di kalender Masehi. Di tahun Kabisat, jumlah hari di bulan Februari ditambahkan satu hari, yaitu hari ke-29. Karena rerata satu tahun berjumlah 365,25 hari. Sehingga digenapkan setiap 4 tahun berjumlah 366 hari. Sementara di kalender Hijriah tidak mengenal sistem Kabisat.
 
Pengguna masing-masing kalender juga berbeda di awal perintisannya. Kalender Gregorian pertama kali digunakan oleh negara-negara penganut Kristen katolik. Seperti Italia, Spanyol dan Portugal. Sementara Kalender Hijriah pertama kali digunakan oleh Khilafah Islamiyah di masa Umar bin Khattab ra..
 
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Ibadah puasa yang terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah (yang bernama) Muharram. Dan salat terbaik setelah salat wajib adalah salat malam”.
 
Rasulullah menyatakan bahwa Muharram adalah Bulan Allah. Bila bulan merupakan hitungan dari hari-hari, maka hari dalam Muharram adalah hari-hari Allah juga.
 
Imam Al-Izz Bin Abdussalam dalam bukunya “Qawâid Al-Ahkâm” mengatakan bahwa keutamaan waktu dan tempat memiliki dua latar belakang. Pertama berdasarkan pertimbangan dunia dan kedua berdasarkan pertimbangan akhirat. Pertimbangan dunia didasarkan pada materi, sementara pertimbangan akhirat didasarkan pada kehendak Ilahi. Allah lebih mengutamakan orang-orang yang beramal di tempat dan waktu tersebut.
 
Sejak zaman jahiliah, orang Arab telah mengagungkan Bulan Muharram. Saking agungnya, orang Arab memberikan nama “Bulan Tuli” khusus untuk Muharram. Diharamkan berbagai aktivitas massif di dalamnya. Seperti berperang, melakukan perjalanan dagang, atau mencari tempat penghasilan yang baru.
 
Istilah bulan tuli ini kira-kira sama seperti perayaan Nyepi dalam agama Hindu. Tidak ada aktivitas keduniaan di dalamnya. Semua manusia hanya nyepi kepada Tuhan. Bahkan dalam riwayat sahih disebutkan bila seorang anak bertemu dengan pembunuh orangtuanya di bulan Muharram, tidak ada aksi balas dendam. Mereka akan menunggu selesai bulan Muharram, lalu menuntut balas.
 
Bila demikian adanya, peringatan memasuki Tahun Baru Hijriah adalah peringatan untuk Nyepi. Peringatan untuk meminimalisir aktivitas-aktivitas keduniaan. Peringatan untuk menulikan diri dari bisingnya dunia, dan mengaktifkan diri untuk akhirat. Peringatan untuk kembali kepada Allah. Karena hari-hari baru di tahun yang baru, adalah hari milik Allah.
 
Memasuki Tahun Baru Hijriah juga berarti memasuki salah satu bulan yang diharamkan Allah. Maka memperingatinya sebagaimana yang disampaikan Imam Qurthubi, yaitu meningkatkan taat dan menjauhi maksiat. Allah dalam Surat At-Taubah ayat 36 meminta kita tidak menzalimi diri sendiri ketika memasuki empat bulan yang diharamkan. Termasuk Muharram. Karena perbuatan maksiat yang dilakukan di dalamnya dosanya akan berlipat. Begitu pula ketaatan juga akan meningkat pahalanya. Berbeda dengan bulan lain di luar yang diharamkan.
 
Ketika asal penamaan, sejarah pemberlakuan, nama bulan, sistem penanggalan sangat berbeda antara kalender Hijriah dan kalender Masehi. Jangan sampai cara memperingatinya dibuat sama. Memasuki awal Muharram, sama seperti gegap gempita saat memasuki awal Januari di setiap tahun.
 
Euphoria awal Tahun Baru Islam sejatinya adalah aktivitas manusia dalam bingkai ketaatan. Peringatan Tahun Baru Islam adalah peringatan untuk kembali kepada Allah. Dan memasuki satu Muharram pada hakekatnya adalah memasuki Hari-Hari Ilahi. Hari saat aktivitas untuk Allah lebih padat, lebih sibuk, lebih banyak, lebih berkualitas, lebih maksimal, dan lebih paripurna.