Oleh: H. Iswan Kurnia Hasan, Lc.MA.
 
 
Sebagai seorang Nabi, Alquran menyebut Sulaiman as. memiliki mukjizat komunikasi yang tidak biasa. Ia mampu mengetahui bahasa jin dan hewan. Allah juga menganugerahkan Sulaiman kuasa untuk menundukkan mereka. Bala tentaranya bukan hanya dipenuhi manusia. Jin dan hewan turut bergabung. Dalam surat An-Naml ayat 17 Allah berfirman, “Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung. Lalu mereka berbaris dengan tertib.”
 
Alquran lalu menggambarkan tipe hubungan yang terjadi antara Nabi Sulaiman sebagai atasan, dengan bawahannya tersebut. Salah satu yang menarik dan digambarkan agak detail, adalah hubungan antara Sulaiman dan burung Hud-hud.
 
Hud-Hud adalah ‘orang dekat’ istana. Bisa dianggap sebagai pejabat teras. Kalau dalam militer sekelas jendral. Setaraf dirjen dalam organisasi sipil. Satu saat Nabi Sulaiman pernah melakukan inspeksi mendadak ke semua bawahannya. “Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud? Apakah ia termasuk yang tidak hadir? (Q.S. An-Naml:20). Karena posisinya yang sangat strategis, maka ketidakhadiran Hud-hud dalam pertemuan penting dianggap sebuah masalah serius.
 
Nabi Sulaiman bukan hanya seorang raja yang sangat berkuasa, tapi juga pemimpin teladan. Ia sendiri yang turun langsung mengevaluasi kinerja pegawainya. Proses evaluasi berjalan sangat detail. Sampai ketidakhadiran Hud-hud diketahui Sulaiman.
 
Sikap Sulaiman atas ketidakhadiran ini juga menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin. Ada mekanisme reward dan punishment kepada setiap bawahannya, tanpa kecuali. Termasuk bagi Hud-hud. Sulaiman lalu menurunkan titah untuk menghukum Hud-hud kalau tetap alpa.
 
Cerita selanjutnya adalah gambaran keteladanan seorang pegawai kepada atasannya. Hud-hud memberikan contoh bagaimana seharusnya menjadi seorang bawahan. Ketika Nabi Sulaiman akan menghukum akibat ketidakhadirannya, Hud-hud justru menjelma menjadi seorang pegawai yang penuh tanggungjawab. Ia tidak mengemukakan alasan ketidakhadirannya, tapi justru membawa informasi yang sangat penting bagi istana.
 
Alpanya Hud-hud bukan karena keluyuran, shoping atau jalan-jalan. Tapi melaksanakan tugas kedinasan yang diberikan kepadanya. Bahkan tugas itu melebihi porsi kerja yang seharusnya. “Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud) lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba membawa suatu berita yang meyakinkan.” (Q.S. An-Naml: 20).
 
Selain bertanggungjawab, Hud-hud juga tipe pegawai cerdas. Ia mengetahui bahwa ketidakhadirannya harus dibayar dengan perilaku positif. Ia lalu memberikan informasi penting kepada Sulaiman yang tidak dapat diberikan oleh pegawai yang lain. Bahkan jin sekalipun. “Sungguh kudapati ada seorang perempuan yang memerintah negeri Saba. Dia dianugrahi segala sesuatu dan memiliki singgasana yang besar.” (Q.S. An-Naml:23).
 
Hud-hud langsung mengambil perhatian Sulaiman dengan memberikan informasi yang menyentil egoisme Sulaiman sebagai seorang Raja. Ia menginformasikan kerajaan lain yang juga megah, gemah ripah loh jinawi. Mirip dengan kerajaan Sulaiman.
 
Karena tidak berhasil, egoisme risalah yang dijamah Hud-hud. Ia tahu bagi seorang Nabi, berita kesyirikan adalah yang terpenting. Maka Hud-hud mengambil jalur ini. “Aku dapati dia dan kaumnya menyembah matahari dan bukan Allah. Dan setan telah menghiasi perbuatan buruk mereka sehingga menghalangi mereka dari jalan Allah dan petunjuk-Nya.” (Q.S. An-Naml:24).
 
Akibat informasi ini, Hud-hud bukan mendapat hukuman karena keterlambatannya. Tapi justru mendapatkan prestasi dan naik pangkat. Ia dititahkan mengemban tugas yang sangat penting. Membawa risalah kenabian ke negeri Saba. “Pergilah membawa suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan. (Q.S. An-Naml:28).
 
Informasi seorang pegawai yang bertanggungjawab, cerdas, dan amanah, yang justru mengantarkan sebuah negeri yang sebelumnya menyembah matahari, tunduk dan menyembah Allah. Pegawai Hud-hud adalah aktor dibalik Islamnya satu negeri. Negeri Saba.
 
Keteladanan tersebut yang membuat Rasulullah melarang untuk membunuh Hud-hud. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad, dari sahabat Abdullah bin Abbas ra., ia berkata, “Rasulullah Saw. melarang untuk membunuh empat binatang melata: semut, lebah, burung Hud-hud dan burung shurad (teklek atau burung pemakan serangga kecil)”.
 
Disebutkan dalam penjelasan hadis ini, Rasul melarang membunuh Hud-Hud, karena menghormati burung tersebut sebagai pemberi kabar kepada Nabi Sulaiman. Sehingga haram untuk dibunuh dan dikonsumsi dagingnya menurut mayoritas ulama.