Mekanisme Melebur Dosa

Sebagai manusia, kita tidak akan pernah terlepas dari dosa dan maksiat. Walaupun akan bervariasi intensitasnya dari satu orang ke orang yang lain. Ada yang terus menumpuk dan tidak jera untuk melakukan dosa. Ada juga yang terus menjaga diri semaksimal mungkin. Berusaha menghindari maksiat. Sekalipun terkadang jatuh kembali. Sambil terus beristighfar saat menyadarinya.

Ada yang dengan bangga melakukannya, tanpa ada rasa malu sama sekali. Sementara di sisi lain ada yang berusaha menutupinya dari mata manusia, sekalipun tetap terang benderang di hadapan Allah Swt.. Ada juga yang mengetahui dengan jelas sebuah dosa. Namun tetap melakukannya. Namun pihak lain ada yang tidak mengetahuinya. Karena keterbatasan ilmu dan pemahaman saat melakukan maksiat.

Manusia yang sadar bahwa dosa dan maksiat akan menimbulkan kesengsaraan baginya di dunia dan azab yang pedih di akhirat akan berusaha untuk meleburnya. Selama hidup masih diberikan Allah Swt., maka kesempatan untuk menghapus catatan hitam dari lembaran kehidupan tetap ada. Bahkan Islam memberikan ruang dan kesempatan yang sangat luas.

Rasulullah Saw. di beberapa hadis shahih pernah menjelaskan tentang mekanisme pelaporan amal manusia. Ada yang bersifat harian, mingguan dan laporan amal tahunan.

Dari tiga mekanisme ini, siklus harian merupakan laporan yang bersifat terperinci. Semua yang dilakukan oleh manusia dibawa menghadap Allah Swt.. Tidak ada satupun yang luput dalam laporan tersebut. Sementara siklus mingguan dan tahunan lebih bersifat    global.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasul Saw. menyebut mekanisme laporan harian, “Sesungguhnya perbuatan yang dilakukan oleh manusia di malam hari akan dilaporkan kepada Allah sebelum siang menjelang. Sementara amal yang dilakukan saat siang akan disampaikan kepada Allah sebelum malam”.

Imam As-Sanady ketika memberikan catatan pinggir terhadap Sunan Nasa’i, memberikan komentar terhadap hadis ini. Menurutnya, siklus harian dalam bentuk laporan amal yang sangat detail. Tidak ada yang luput didalamnya. Semua dicatat oleh Malaikat.

Selama 24 jam malaikat akan mengawasi perbuatan manusia. Dan setiap 12 jam dari siklus 24 jam, malaikat akan melapor kepada Allah Swt.. Dengan membawa laporan yang sangat detail. Tidak ada yang luput. Besar atau kecil akan dicatat. Sadar atau lalai tetap dilaporkan. Perbuatan baik dan buruk sampai kepada Allah Swt.

Selanjutnya mekanisme mingguan. Bahasa ulama hadis menyebutnya dengan Siklus Jum’atan. Dalam riwayat marfu dari sahabat Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw bersabda, “Semua amal manusia akan dilaporkan kepada Allah di Hari Senin dan Kamis. Di dua hari ini, Allah akan mengampuni setiap manusia yang tidak menyekutukan Allah kecuali seseorang yang masih terlibat permusuhan dengan orang lain. Malaikat mengatakan bahwa ampunan Allah ditunda sampai terjadi perdamaian antara keduanya.” (HR.    Muslim)

Dalam Riwayat Imam Nasai juga disebutkan, sahabat Usamah bin Zaid ra. pernah bertanya, “Wahai Rasulullah Saw. aku melihatmu berpuasa sampai seakan tidak berbuka. Kemudian engkau senantiasa berbuka, sampai seakan tidak berpuasa sunah lagi. Kecuali di dua hari. Bila masuk saat engkau berpuasa maka engkau berpuasa. Bila tidak maka engkau tetap berpuasa di dua hari itu. Rasulullah Saw lantas bertanya, “Hari apa saja itu?” Usamah ra. kemudian menjawab, “Hari Senin dan Kamis”. Rasulullah lantas menjawab, “Dua hari itu (Senin dan Kamis) adalah waktu diangkatnya amal di hadapan Allah Swt.. Maka aku ingin saat amalku diangkat menuju Allah, aku dalam kondisi sedang berpuasa.”

Ketiga adalah siklus tahunan. Siklus ini yang diulas ketika sahabat Usamah bin Zaid ra. heran dengan perilaku RasulullahSaw. di bulan Sya’ban. “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa sunnah di bulan lain, sebanyak puasa yang engkau lakukan di bulan Sya’ban!” komentar Zaid ra. . Rasulullah Saw. lalu memberikan alasan terkait kebiasaan berpuasanya itu, “Bulan Sya’ban  adalah bulan yang sering dilupakan manusia karena terletak antara dua bulan agung, Rajab dan Ramadan. Catatan setiap perbuatan juga diangkat ke hadapan Allah di bulan Sya’ban. Maka aku ingin ketika catatan amalku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa” (HR. Nasai dan Ahmad).

Ada yang menarik dari tiga mekanisme ini. Laporan amal harian, mingguan dan tahunan itu juga didahului dengan mekanisme untuk melebur dosa.

Seakan Allah Swt.masih ingin memberikan kesempatan pemutihan kembali kepada hambaNya sebelum  catatan amal itu ditutup. Manusia masih diberikan kesempatan yang luas untuk melebur dosa. Menghapus catatan maksiat yang ditulis oleh malaikat. Ini yang menakjubkan.

Ketika laporan harian diangkat menjelang fajar dan sebelum malam,   Allah Swt. masih memberikan kesempatan taubat sebelum tutup buku. Masih ada waktu untuk merubahnya kembali putih. Bersih dari dosa dan kesalahan.

“Sesungguhnya Allah  akan  membentangkan kekuasaanNya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang telah berbuat dosa di siang hari.  Allah juga membentangkan kekuasaannya saat siang untuk menerima taubat pelaku dosa di malam harinya” papar  Rasulullah dalam sebuah hadis riwayat Muslim.

Senada dengah hadis ini, Allah Swt. berfirman dalam surat Thaha ayat 130, “Maka sabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit, dan sebelum terbenam; dan bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari, agar engkau merasa tenang”.

Di sinilah rahasianya Rasulullah Saw. meminta kita untuk membiasakan diri membaca zikir pagi dan zikir petang. Bahkan dalam beberapa hadis shahih, Rasulullah Saw. membiasakan zikir-zikir tertentu di pagi sebelum terbit fajar dan di sore hari sebelum terbenam matahari. Seakan zikir-zikir tersebut adalah salah satu mekanisme pelebur dosa. Selain salat Subuh yang dilaksanakan menjelang pagi dan salat Ashar yang dilaksanakan sebelum matahari terbenam.

Adapun media peleburan dosa  mingguan dan tahunan memiliki karakter  yang sama. Media itu dengan puasa. Sebab puasa juga berfungsi untuk menghapuskan dosa. Dalam sebuah riwayat Bukhari dan Muslim Rasul Saw. mengatakan bahwa dosa seorang manusia terhadap dirinya, keluarganya, anaknya, tetangganya dan dosa yang timbul dari harta yang dimilikinya akan terhapus dengan puasa, salat, sedekah, amar ma’ruf dan nahi munkar.

Inilah rahasia puasa Senin Kamis yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.. Ia berharap sebelum catatan amal mingguan itu dilaporkan, puasa telah memutihkan semua dosa yang tercatat didalamnya. Catatan amal bisa kembali bersih seperti sedia kala. Usamah bin Zaid ra. yang berhasil menggali rahasia ini dari Rasulullah. Ketika ia pernah bertanya tentang keutamaan puasa Senin Kamis, Rasulullah kemudian menjawab, “Dua hari itu adalah waktu diangkatnya amal menuju Allah, maka aku ingin saat amalku diangkat dalam kondisi berpuasa” (HR. Nasa’i).

Bila kita tidak dapat memanfaatkan siklus harian melebur dosa. Dera aktivitas mingguan membuat kita tidak terbiasa berpuasa Senin dan Kamis, maka kesempatan terakhir untuk melebur dosa ada di Syakban. Siklus peleburan dosa tahunan ada di bulan ini. Allah Swt. tahu kita manusia sering lalai dalam kehidupan. Maka tetap diberikan kesempatan terakhir. Sebelum malaikat benar-benar mengangkatnya kehadapan Allah Swt..

Inilah alasan Rasulullah Saw. memperbanyak puasa sunnah di bulan Syakban. Agar catatan amal tahunan kembali putih seperti sedia kala. Maka fungsi kedatangan bulan Syakban sebelum Ramadan seperti sabun pemutih yang menghilangkan noda hitam dari baju bersih.

Setelah kita mengoptimalkan ibadah Ramadan tahun lalu, dan kembali fitri saat fajar Syawal menyingsing, mungkin dosa kembali mengotori catatan putih amal kita. Maksiat kembali mendera kita sejak menapaki Syawal sampai Rajab. Maka memasuki bulan Syakban, Allah Swt. memberikan kesempatan untuk menghapus catatan hitam kita dari buku amal yang ditulis oleh malaikat. Caranya mudah, sebagaimana Rasulullah Saw juga melaksanakannya,  yaitu memperbanyak puasa sunnah di bulan Syakban.

Dengan memperbanyak puasa di bulan Syakban, kita mendapatkan hikmah  lain selain peleburan dosa. Yaitu persiapan menyambut bulan Suci. Ibarat seorang atlet yang akan turun ke sebuah pertandingan atau perlombaan. Ia membutuhkan latihan yang cukup agar bisa menjadi juara. Persiapan harus matang agar mampu bertarung dengan yang lain dan finis di urutan terdepan. Itulah rahasia Syakban lainnya. Rasul Saw. memperbanyak puasa sunah di dalamnya dalam rangka melatih diri, memasuki bulan agung yang diwajibkan berpuasa di dalamnya. Bulan suci Ramadhan.

Sebagaimana juara membutuhkan latihan yang keras, sebagaimana pemenang lomba membutuhkan persiapan yang matang. Para jawara Ramadhan yang akan mendapatkan hadiah ‘suci dari dosa sebagaimana seorang bayi yang baru lahir dari rahim ibunya’ juga butuh latihan dan persiapan. Allah Swt. memberikan kesempatan satu bulan penuh di bulan Syakban. Latihan puasa di dalamnya, juga bisa dibarengi dengan latihan membaca Alquran sehari minimal satu juz, latihan salat tahajjud, latihan infak dan sedekah, dan latihan-latihan kebaikan lainnya. Sehingga saat Ramadhan kita bisa konsisten melaksanakan kebaikan selama satu bulan penuh. Kebaikan yang pahalanya akan berlipat-lipat.

Sementara yang tidak latihan, bisa jadi akan berubah menjadi baik saat Ramadhan. Tapi untuk konsisten dengan kebaikan selama satu bulan penuh, belum tentu. Karena kebaikan juga membutuhkan latihan dan persiapan. Karena kebaikan juga harus dibiasakan. Tidak akan semudah membalik telapak tangan.