Oleh: H. Iswan Kurnia Hasan, Lc.MA.
 
 
Ibnu Umar ra., seorang sahabat Rasulullah pernah membandingkan antara pelaksanaan haji di masa Rasulullah Saw. dan haji di masanya, atau sepeninggal Rasulullah. Sekalipun masih dekat dengan masa Rasul, tapi ada pergeseran makna yang terjadi. Mengetahui pergeseran itu, ia lantas mengatakan ungkapan yang sangat terkenal, “Begitu banyak orang yang menjadi tamu Allah, namun hanya sedikit yang melaksanakan ibadah haji”.
 
Memahami ungkapan Ibnu Umar ini sama dengan membedakan antara orang yang hanya sekedar salat, dan yang menegakkan salat. Orang yang salat, hanya memperhatikan pelaksanaan ibadah secara lahir. Sekedar aktivitas fisik saja. Bila telah melaksanakan semua gerakan salat, berarti kewajiban telah gugur. Sementara yang menegakkan salat, memperhatikan makna lain di luar gerakan. Yaitu keterikutan hati dalam salat yang dilaksanakannya. Orang yang tegak salatnya adalah yang melibatkan fisik dan nonfisik.
 
Begitu pula perbedaan antara tamu Allah dan jamaah haji. Ibnu Umar ingin mengatakan, berapa banyak orang yang datang ke Mekah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji. namun hanya sedikit yang bisa menjadi haji sebenarnya. Berapa banyak orang yang telah melaksanakan manasik, tapi hanya sedikit yang makin asyik beribadah setelah manasik. Berapa banyak orang yang mengharapkan haji mabrur, namun hanya sedikit yang dosanya setelah haji terlebur. Berapa banyak orang yang menjadi tamu di Baitullah, tapi hanya sedikit yang mendapat magfirah Allah.
 
Bila ungkapan Ibnu Umar tersebut disampaikan pada zaman sahabat, lantas bagaimana kira-kira dengan pelaksanaan haji saat ini? Bila ungkapan itu disebutkan setelah belasan tahun saja berlalu dari masa Rasulullah. Toh sudah ada pergeseran makna. Lalu bagaimana jika telah berlalu 14 abad dari masa Rasulullah? Apakah bertambahnya tahun membuat kondisi semakin membaik? Atau justru sebaliknya?
 
Susah untuk menjawabnya. Tapi setidaknya bisa diukur dengan parameter keberhasilan haji yang disebutkan dalam Alquran dan Sunnah. Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 197, “Haji itu pada bulan-bulan yang telah ditentukan. Barang siapa yang melaksanakan haji pada bulan-bulan itu, maka janganlah rafats, fusûq dan jidâl. Setiap kebaikan yang kamu lakukan akan diketahui Allah. Maka carilah bekal, sesungguhnya bekal yang terbaik adalah takwa. Dan bertakwalah kamu wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
 
Kata rafats menurut Ibnu Katsir berarti jima’ atau hubungan suami istri. Juga mengandung semua makna yang terkait dengan jima’. Walaupun hanya sekedar mukaddimahnya. Seperti cumbuan dan rayuan. Bahasa kontemporernya melakukan tindakan pornografi dan pornoaksi. Sementara fusûq berarti maksiat. Atau melakukan semua hal yang dilarang Allah dan RasulNya dalam proses manasik haji. Secara khusus menurut Imam Ath-Thabary diartikan melaksanakan larangan saat ihram. Seperti menggunting kuku, memotong rambut atau membunuh binatang buruan.
 
Kata jidâl berarti perdebatan. Baik dalam skup kecil, misalnya memperdebatkan tatacara manasik yang sudah jelas. Atau dalam skala yang lebih besar. Sampai mengarah kepada pertikaian dan permusuhan. Menurut Ibnu Umar ra., jidâl dalam haji berbentuk saling mengumpat satu sama lain, debat kusir, dan permusuhan.
 
Haji yang berhasil adalah ketika seorang jamaah haji tidak melaksanakan rafats, fusûq dan jidâl. Parameter selanjutnya adalah mabrur. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah ra., ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Antara satu umroh dengan umroh yang lain berfungsi menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga”.
 
Kata mabrur di dalam bahasa Arab diambil dari kata al-birr. Allah Swt. menjelaskan makna al-birr dalam surat Al-Baqarah ayat 177, “Al-birr itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat. Tapi beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan hamba sahaya. Serta melaksanakan salat, menunaikan zakat, menepati janji, bersabar dalam kesengsaraan, penderitaan dan saat perang. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.”
 
Haji yang mengandung al-birr atau haji yang mabrur berarti haji yang dimulai dengan landasan keimanan. Pelaksanaan manasik selama musim haji adalah manivestasi dari keimanan. Setelah selesai melaksanakan haji, iman tetap terjaga dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan.
 
Haji mabrur adalah seorang yang terbiasa menginfakkan harta yang dicintainya. Kepada orang-orang yang membutuhkan. Di tanah suci saat haji sudah membiasakan diri untuk bersedekah. Setelah pulang ke tanah air, sedekah menjadi karakter utama yang tetap terjaga. Dalam sebuah hadis dari sahabat Jabir ra., ketika Rasulullah saw. bersabda, “Haji mabrur tidak ada balasan yang tepat baginya kecuali surga”, beliau lantas ditanya, “Apakah kriteria haji mabrur?” Rasul menjawab, “Memberikan makan dan menyebarkan salam” (HR. Ahmad).
 
Lalu melaksanakan semua jenis ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Baik yang bersifat wajib, maupun sunnah. Seperti menegakkan salat dan menunaikan zakat. Imam Malik dan Sufyan bin Uyainah pernah menceritakan kondisi Ali bin Husain ketika melaksanakan haji. Setelah berniat ihram, Ali bin Husain menaiki hewan tunggangannya untuk memulai manasik. Saat akan mengucapkan talbiyah, ia tidak sanggup melanjutkannya. Mulutnya seakan terkunci. Ia lalu ditanya, “Kenapa tidak mengucapkan talbiyah?” Ali bin Husain menjawab, “Aku takut saat mengucapkan talbiyah, “Aku memenuhi panggilanmu ya Allah, lalu Allah menolakku”. Wajahnya berubah pucat kekuningan, lalu ia jatuh dari hewan tunggangannya karena pingsan.
 
Ali bin Husain yang tidak sanggup mengucapkan talbiyah, karena takut sama Allah, adalah seorang yang setiap hari melaksanakan salat tidak kurang dari 1000 rakaat. Sehingga ia dijuluki Zain al-Âbidîn, yang berarti hiasan utama ahli ibadah.
 
Haji mabrur juga menciptakan seorang manusia yang senantiasa memenuhi janji dan sabar dalam semua kondisi. Saat berihram, ia sudah terbiasa sabar untuk menjaga hal-hal yang dapat membatalkan ihram. Sekalipun hanya memakai wewangian, yang menjadi sunnah saat tidak berihram. Setelah haji, pelajaran sabar tersebut akan diterapkan dalam media yang lebih besar. Media kehidupan sampai ajal menjelang.
 
Dalam sebuah hadis, Rasulullah juga pernah menjelaskan makna al-birr. Dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat An-Nawwas bin Sam’an, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Al-birr adalah akhlak yang baik. Sementara dosa adalah sesuatu yang membuatmu gelisah, dan engkau takut apabila dilihat oleh orang lain”.
 
Berarti, seorang haji mabrur adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Saat melaksanakan manasik, apalagi setelah pulang ke tanah air. Aura zuhud terpancar dari wajahnya. Tawaddhu menjadi karakter utamanya. Tawakkal menghiasi dirinya. Qanaah menjadi ciri khasnya, lembut tutur katanya. Sopan cara bergaulnya. Dan lain-lain.
 
Imam Hasan Al-Basry pernah menyimpulkan tanda seseorang mendapatkan haji yang mabrur. Ketika ditanya apakah parameter haji mabrur, ia kemudian mengatakan bahwa haji mabrur adalah seseorang yang selesai melaksanakan haji dan pulang ke tanah air, menjadi semakin zuhud dengan dunia dan cinta dengan akhirat.
 
Itulah sebabnya secara khusus Allah menegur jamaah haji di zaman jahiliah karena tidak zuhud dan terbiasa membanggakan diri. Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 200, “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu”.
 
Menurut Mujahid, ayat ini bersifat teguran terhadap tradisi setelah melaksanakan manasik di masyarakat jahiliah. Mereka memiliki kebiasaan berkumpul di tempat melontar jumrah dan mulai membanggakan nenek moyang mereka. Allah menegur tradisi tersebut dan menggantinya dengan mengingat Allah, sebagaimana mereka mengingat nenek moyang mereka. Bahkan kalau bisa lebih.
 
Kira-kira inilah parameter sederhana untuk menilai apakah pelaksanaan haji saat ini lebih baik dibanding haji di masa Rasulullah atau tidak. Bisa dinilai dari kondisi saat haji dan setelah haji. Apakah semakin taat, ataukah kembali maksiat. Apakah makin semangat memberi, atau semakin tidak peduli. Apakah makin berakhlak atau justru lebih nista. Apakah semakin sabar, atau justru lebih emosional. Apakah makin cinta dunia, atau lebih memilih akhirat.
 
Pelaksanaan ibadah purna seperti haji meminta kepada pelakunya untuk lebih merenungi makna manasik. Bukan hanya melaksanakan aktivitas lahiriah saja. Sebab aktivitas lahir hanya bersifat periodik. Hanya bisa dilaksanakan selama miqat zamani berlangsung. Dimulai dari bulan Syawal sampai Dzulhijjah.
 
Suatu saat Umar bin Khattab ra. melihat rombongan jamaah haji yang akan pulang. Ia lalu berkata, “Kalau seandainya rombongan tersebut mengetahui keutamaan yang disiapkan Allah setelah mereka mendapatkan ampunan saat haji, mereka pasti tidak akan berpangku tangan, dan tetap kembali melaksanakan kebaikan.”
 
Walaupun bulan Dzulhijjah telah berganti menjadi bulan Muharram dan musim haji telah selesai, walaupun telah meninggalkan Mekkah dan Madinah, kita tetap menjadi jamaah haji. Dengan semua makna mabrur yang disebutkan dalam Alquran dan Sunnah. Bukan menjadi purnawirawan haji, yang kembali dalam kondisi kita sebelumnya. Seperti seorang yang tidak pernah melaksanakan ibadah haji.