Oleh: H. Iswan Kurnia Hasan, Lc.MA.
 
 
Kalau saya ditanya nama apa yang paling cocok disematkan untuk Muharram? Saya akan menjawab, lebih cocok kita namakan “Bulan Puasa Sunnah”. Memang agak berbeda dengan arus kebanyakan yang telah mengidentikkan Muharram sebagai “Bulan Anak Yatim”. Apalagi telah menjadi tradisi positif di Indonesia saat 10 Muharram atau Hari Asyura, umat Islam berlomba menyantuni anak yatim.
 
Tapi, nama yang saya pilih memiliki alasan yang lebih kuat. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya puasa yang terbaik dilaksanakan setelah Ramadan, adalah puasa di Bulan Allah Muharram, dan salat terbaik yang dilaksanakan setelah salat fardu adalah salat tahajjud”. Menurut Imam Nawawi, sabda ini mengindikasikan bahwa bulan terbaik untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan Muharram.
 
Keterangan Imam Nawawi ini, sekilas bertentangan dengan hadis sahih yang lain. Sebab yang umum diketahui, dan telah disebutkan dalam beberapa riwayat sahih, Rasulullah justru memperbanyak puasa di bulan Syakban. Bukan Muharram.
 
Berdasarkan amalan Rasulullah, seharusnya Bulan Syakban yang lebih pas dinamakan Bulan Puasa Sunnah dan bukan Muharram. Apalagi, tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Muharram, melebihi kuantitas puasa sunnah yang dilakukan di bulan Syakban.
 
Menengarai hal ini, Imam Nawawi memiliki jawaban yang logis. Kata Imam Nawawi, ada dua jawaban kenapa Rasulullah justru tidak memperbanyak puasa di bulan Muharram. Padahal bulan ini adalah bulan yang terbaik untuk melaksanakan puasa sunnah. Pertama, ada kemungkinan Rasulullah mengetahui keutamaan itu di akhir hayatnya. Sehingga beliau tidak memiliki kesempatan untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram. Kedua, bisa jadi Rasulullah tidak sempat memperbanyak puasa, karena saat datangnya Muharram, Rasulullah sedang musafir, sakit atau uzur yang lain.
 
Bahkan dalam riwayat Bukhari, Ibnu Abbas mengatakan bahwa saya tidak pernah melihat Rasulullah berkosentrasi untuk mencari keutamaan puasa sunnah harian kecuali puasa pada hari Asyura. “Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah berkosentrasi untuk mencari keutamaan puasa sunnah dalam satu bulan kecuali puasa di bulan Ramadan” lanjut Ibnu Abbas.
 
Artinya, dari semua hari yang dianjurkan untuk berpuasa sunnah, puasa Asyura menempati urutan pertama. Dan dari semua bulan yang ada, bulan Muharram adalah bulan yang dianjurkan untuk berpuasa sunnah.
 
Sebenarnya tidak ada yang bertolak belakang. Bulan Muharram sebagaimana hadis di atas, tetap menjadi bulan yang terbaik untuk berpuasa setelah Ramadan, berdasarkan keutamaan waktunya. Sementara realita amalan, Rasulullah tetap memperbanyak puasa di Bulan Syakban.
 
Bukan karena Syakban bulan terbaik untuk puasa sunnah. Tapi saat Syakban, laporan amal tahunan diangkat menuju Allah. Rasulullah memperbanyak puasa di dalamnya, karena ingin ketika amal diangkat dalam kondisi puasa.
 
Lalu mengapa bulan Muharram justru identik dengan Bulan Anak Yatim? Memang ada hadis marfu’ yang menyebutkan tentang keutamaan menyantuni anak yatim di Hari Asyura. Sahabat Abdullah bin Abbas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim pada 10 Muharram, maka Allah akan mengangkat derajatnya sesuai dengan jumlah rambut yang ia usap dari kepala anak yatim itu”.
 
Hadis mengusap kepala anak yatim ini yang mungkin mendasari bulan Muharram diidentikkan dengan bulan anak yatim. Atau hari Asyura yang dijadikan Hari Raya Anak Yatim. Namun bila kita mau menganalisasi kualitas sanad, hadis ini memiliki beberapa masalah. Tidak sedikit para ulama hadis yang melemahkan hadis ini. Bahkan mengkategorikannya sebagai hadis palsu.
 
Sambungan dari hadis ini juga memberikan informasi-informasi yang bertentangan dengan Alquran dan hadis lainnya. Seperti informasi yang menyebutkan bahwa hari kiamat juga terjadi pada hari Asyura. Padahal hadis sahih telah menyebutkan Rasulullah tidak mengetahui kapan terjadinya hari kiamat saat ditanya langsung oleh Malaikat Jibril.
 
Selain itu, riwayat yang lebih sahih terkait mengusap kepala anak yatim dalam hadis lain, justru tidak terkait waktu tertentu. Seperti Hari Asyura. Tapi terkait dengan kondisi. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, dari sahabat Abu Hurairah ra., ia berkata,  “Seseorang pernah datang kepada Rasulullah Saw. mengadukan hatinya yang keras. Rasul lalu bersabda kepadanya, “Bila engkau ingin hatimu menjadi lembut, berikanlah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim”.
 
Sementara hadis yang mengatakan puasa terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan kualitas sanad yang tidak memiliki cacat sedikitpun. Informasi yang ada di dalamnya juga tidak bertentangan dengan Alquran dan hadis sahih. Bila terkesan agak bertentangan dengan keutamaan puasa di bulan Syakban, keterangan Imam Nawawi sudah memberikan jawaban logis.
 
Maka identitas yang berhak disematkan untuk Muharram adalah Bulan Puasa Sunnah. Bukan Bulan Anak Yatim. Apalagi, memperhatikan anak yatim adalah perintah yang harus dilaksanakan tanpa terkait dengan waktu. Tidak harus menunggu kedatangan bulan Muharram. Tidak harus menanti hari Asyura untuk memberikan kafâlah (makanan, minuman, tempat tinggal, perhatian dan pendidikan) kepada anak yatim.
 
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, dari sahabat Sahl bin Sa’ad ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Aku dan orang yang menyantuni anak yatim, (kedudukannya) di surga seperti ini, kemudian beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya, sambil merenggangkan antara keduanya.”