Oleh: H. Iswan Kurnia Hasan, Lc.MA.
 
 
Catatan penjajahan dalam lembar sejarah selalu menggoreskan tinta merah. Contohnya Indonesia sebagai bangsa terjajah. Sejak zaman VOC, sampai pendudukan Jepang, fakta historis menuliskan kisah-kisah memilukan. Seperti Romusha di Pulau Jawa. Atau Jugun Ianfu di barak-barak militer Jepang. Sampai pengasingan dan pembunuhan para tokoh pro kemerdekaan di Boven Digoel. Semuanya adalah bukti riil penjajahan.
 
Alquran tidak menafikan fakta penjajahan. Ketika Nabi Sulaiman mengirimkan surat ekspansi ke negeri Saba’, Ratu Balqis segera meminta pendapat pejabat istana tentang niat Nabi Sulaiman itu. Pejabat Istana memilih perlawanan. Tapi sang Ratu memutuskan untuk berdamai. Sebab tabiat penjajahan, “Dia (Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat” (QS. An-Naml: 34)
 
Bila penjajah dirindukan dan ditunggu kedatangannya oleh masyarakat yang akan dijajah, maka ini baru aneh dan ajaib. Susah ditemui faktanya dalam sejarah penjajahan di dunia. Tapi ekspansi Islam memberikan bukti itu. Bahkan tidak hanya satu kali. Terjadi berkali-kali. Salah satunya adalah kisah Islam masuk ke Samarkand.
 
Kata Samarkand berarti “benteng bumi”. Karena wilayah ini merupakan lembah hijau yang dikelilingi oleh gunung. Ibnu Batutah ketika singgah di Samarkand sempat mencatat keindahan daerah tersebut dalam bukunya “Rihlah Ibn Bathûthah Tuhfah An-Nuzhzhâr Fî Gharâib al-Amshâr Wa ‘Ajâib al-Asfâr”. Kata Ibnu Batutah, “Samarkand adalah kota yang paling besar dan paling indah yang pernah dijumpainya. Kota ini dibangun di tepian lembah dan memiliki istana-istana megah”. Saat ini Samarkand menjadi salah satu Propinsi di Uzbekistan. Sebuah negara di Asia Tengah pecahan Uni Sovyet.
 
Alkisah, Quthaibah bin Muslim Al-Bahily diperintahkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis untuk ekspansi ke wilayah Samarkand. Untuk menaklukan Samarkand, Quthaibah meminta pasukannya bersembunyi di balik gunung dan melakukan serangan mendadak ke dalam kota. Penduduk yang tidak siap diserang, akhirnya menyerah dan takluk. Sejak itu Islam mulai menguasai Samarkand.
 
Para pendeta Samarkand yang mengetahui kebiasaan Islam dalam melakukan ekspansi, mengirimkan nota protes kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis di Damaskus. Menurut para pendeta, mereka tidak diberikan pilihan terlebih dahulu, apakah masuk Islam; atau membayar jizyah; atau memilih jalur perang. Mereka langsung diserang begitu saja. Tanpa ada peringatan sebelumnya. Hal ini bertentangan dengan aturan perang dalam Islam.
 
Khalifah Umar saat menerima utusan Samarkand yang membawa nota protes, langsung menulis perintah sepanjang dua paragraf di secarik kertas. Kisah pertemuan sang utusan dengan khalifah juga ajaib. Sebab utusan Samarkand tidak menyangka Khalifah yang menguasai wilayah dari China di Asia, sampai Prancis di Eropa, didapatinya sedang berlumuran lumpur, karena menutup dinding rumahnya yang terbuat dari tanah liat. Ia menyangka akan menemui seorang raja yang mendiami istana yang megah.
 
Surat itu lalu dibawa dan diperlihatkan kepada Hakim yang ditunjuk Quthaibah di Samarkand. Setelah menerima surat, Hakim lalu memanggil Quthaibah sebagai perwakilan penjajah, dan para pendeta sebagai wakil yang terjajah. Keputusan kemudian dijatuhkan hakim sesuai perintah sang Khalifah.
 
Keputusan itu meminta seluruh pasukan Islam keluar dari Samarkand. Kemudian Quthaibah diminta memberikan tiga pilihan dulu kepada penduduk, sebelum memasuki Samarkand kembali. Quthaibah akhirnya menuruti perintah hakim. Sebelum matahari terbenam sejak dijatuhkan putusan, seluruh pasukan Islam tanpa tersisa telah meninggalkan bumi Samarkand.
 
Para pendeta dan penduduk yang melihat seluruh pasukan Islam keluar dari wilayah mereka merasa heran dan takjub. Tidak pernah terjadi dalam sejarah mereka, ada penjajah menuruti keinginan rakyat yang dijajah. Akhirnya, para pendeta dan mayoritas rakyat Samarkand memutuskan untuk memeluk agama Islam. Mereka lantas memanggil kembali Quthaibah dan pasukannya untuk memasuki Samarkand dengan suka cita.
 
Apa yang dilakukan oleh Quthaibah kepada penduduk Samarkand, merupakan bukti Islam yang mengedepankan moralitas. Sekalipun terkesan paradoks. Terhadap musuh, kok berakhlak? Bukankah seharusnya menunjukkan kekuatan? Tapi itulah Islam, seperti yang diwariskan dari Rasulullah dan para sahabatnya.
 
Untuk menjaga akhlak di depan musuh, Rasulullah bahkan pernah menegur istrinya yang hanya sekedar membalas tindakan orang Yahudi yang tidak bermoral. Dalam riwayat Muslim disebutkan suatu saat sekelompok pendeta Yahudi ingin bertemu dengan Rasulullah. Saat bertemu, mereka justru tidak mengucapkan “Assalâmu ‘alaikum” (keselamatan bagimu), tapi “Assâmu ‘alaikum” (racun/kematian bagimu). Aisyah yang mendengar apa yang diucapkan para pendeta Yahudi itu kemudian membalas, “Justru kematian dan laknat bagi kalian”.
 
Rasulullah bukan membela Aisyah, tapi justru menasehatinya,  “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah Maha lembut, mencintai kelembutan, dan Allah memberikan pada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan pada sikap kasar. Juga kepada sesuatu selain sifat kasar”.  
 
Tidak selamanya kekuatan akan dihadapi dengan kekuatan. Tidak selamanya durjana juga dilawan dengan durjana. Tidak selamanya celaan dibalas dengan celaan yang sama. Sejarah Islam membuktikan, bahwa kelembutan bisa mengalahkan kekuatan. Akhlak bisa menaklukkan negara. Moralitas dapat mengalahkan musuh.
 
Seperti sejarah Islam masuk ke Samarkand. Penduduk takluk justru dengan akhlak. Penjajah yang seharusnya dibenci, kini dinanti. Ya, Selamat datang kembali penjajah! Penjajah Islam. Penjajah akhlak.