Oleh : H. Iswan Kurnia Hasan, Lc. MA.
 
 
Sebagai penganut agama Islam, mungkin ada pertanyaan yang terbetik dalam akal kita. Apakah kita bisa masuk ke dalam surga? Bila membandingkan kualitas dan kuantitas amal kita dengan para sahabat yang telah dijamin surga, serasa sangat timpang. Tidak usah jauh-jauh. Ambil perbandingan dari satu amal sederhana saja. Contohnya berinfak.

Saat Abu Bakar ra. memerdekakan Bilal bin Rabah ra., ia membayar 9 ûqiyah emas. Satu ûqiyah emas kira-kira setara dengan 31 gram emas. Bila satu gram emas di pasaran seharga 850.000 rupiah, maka jumlah yang ditebus Abu Bakar kepada Umayyah bin Khalaf senilai 237.150.000 rupiah. Hampir mencapai angka seperempat miliar. Ini baru harga satu orang yang dimerdekakan. Masih banyak hamba lain yang dimerdekakan Abu Bakar.

Umar bin Khattab ra. pernah menulis wasiat untuk memberikan sepertiga dari harta yang dimilikinya untuk kepentingan dakwah Islam. Jumlah sepertiga hartanya kira-kira mencapai 13.000 dinar. Bila dikonversikan ke rupiah berjumlah sekitar 28 miliar rupiah.

Di saat perang Tabuk, Usman bin Affan ra. menjadi donatur utama persiapan perang. Kafilah dagang yang sebelumnya ia siapkan menuju Syam, dialihkan untuk kebutuhan perang. Sekitar 900 ekor unta, termasuk di dalamnya 200 ekor unta yang akan berangkat ke Syam, beserta seluruh barang yang ada di dalamnya, diinfakkan di jalan Allah. Ditambah lagi 100 ekor kuda. Belum termasuk uang kontan. 1000 dinar infak awal, diserahkan kepada Rasulullah secara langsung. Kemudian infaknya masih terus ditambah sampai satu pasukan utuh siap berperang.

Bila 1 dinar emas rerata bernilai 2,2 juta rupiah, atau seharga satu ekor kambing di masa Rasulullah, maka 1000 dinar setara 2 miliar lebih. Bila ditambah dengan harga 900 ekor unta dan 100 ekor kuda, maka angkanya akan mencapai puluhan miliar. Jumlah puluhan miliar ini diserahkan hanya untuk persiapan Tabuk saja. Di kesempatan yang lain, Usman tetap menyumbang tanpa henti.

Tidak kalah dengan Usman, sahabat Abdurrahman bin Auf ra. menyerahkan 200 ûqiyah emas. Atau senilai 5 miliar lebih. Abu Bakar ra. juga menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya dan tidak ada yang tersisa. Umar  bin Khattab ra. menyerahkan setengah harta yang dimilikinya. Belum lagi sahabat lain yang berinfak. Kira-kira, untuk satu kali perang Tabuk, dana yang terkumpul mencapai ratusan miliar rupiah.

Para sahabat saat berinfak, hitungannya bukan lagi infak dari keuntungan, dari kelebihan harta yang dimiliki, dari tabungan yang khusus dialokasikan untuk infak, dari dana penghasilan yang tidak terduga, atau dari dana-dana masukan lainya yang masih syubhat, sehingga diinfakkan untuk membersihkan harta. Tidak! Diantara mereka dalam satu kali infak menyerahkan semua hartanya. Ada yang menyerahkan semua modal usahanya. Ada yang menyerahkan semua yang dimilikinya. Sekalipun hanya satu atau dua mud kurma. Karena hanya itulah harta yang tersisa. Ini baru berinfak saja. Belum lagi amalan lainnya. Baik yang hukumnya wajib maupun sunnah.

Di sisi lain, kualitas dan kuantitas amal yang ditunjukkan para sahabat, berbanding terbalik dengan sikap mereka terhadap surga. Bahkan bagi seorang yang telah dijamin Rasulullah masuk surga. Mereka tidak menjadi sombong dan merendahkan yang lain. Mereka tidak percaya diri berlebihan dan ujub dengan kebaikan. Tidak meminta fasilitas khusus karena didaulat menjadi ahli surga saat hidup. Justru ketakutan akan neraka yang terus hinggap dalam hati. Sambil berdoa dan berharap kepada Allah agar dimasukkan ke dalam surga.

Adalah seorang Umar bin Khattab, sahabat yang telah dijamin masuk surga. Ia juga menjadi donatur perang Tabuk dengan mendonasikan separuh harta yang dimilikinya. Tapi dalam satu kesempatan saat khutbah, ia mengatakan di depan penduduk Madinah, “Kalau ada seruan dari langit yang menyatakan bahwa kamu semuanya akan masuk ke dalam surga, kecuali hanya satu orang. Aku takut bahwa akulah satu orang itu, yang tidak akan masuk surga. Bila ada seruan dari langit yang menyatakan kamu semuanya akan masuk ke dalam neraka, kecuali hanya satu orang saja. Aku tetap berharap bahwa akulah yang menjadi satu orang tersebut” (Hilyah al-Awliyâ’ wa Tabaqhât al-Ashfiyâ).

Lalu, apakah kita masih berhak menjadi penghuni surga? Apakah kita percaya diri masuk surga? Bila kualitas infak saja masih kalah jauh? Apakah Allah masih akan mengumpulkan kita dengan para nabi, sahabat, dan penduduk surga yang lain? Bila perbandingan satu amalan saja, masih tidak sebanding dengan para sahabat?

Dalam surat Fathir ayat 32 sampai 33, Allah Swt. berfirman, “Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami. Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Bagi mereka) surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya. Di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan mutiara, serta pakaian yang terbuat dari sutra.”

Dalam tafsir At-Thabary, dinukil pendapat Ibnu Abbas ra. bahwa maksud “orang-orang yang kami pilih” dalam ayat di atas adalah umat Muhammad Saw.. Seluruh penganut agama Islam menjadi ahli waris semua kitab yang diturunkan Allah, dan yang akan menjadi penghuni surga. Ada jaminan surga yang diberikan kepada semua orang yang telah mengikrarkan syahadat dan menjaganya sampai akhir hayat. Cuma proses dan kategorinya saja yang berbeda.

Dalam sebuah riwayat dari Uqbah bin Shibhan Al-Hinna’iy, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah ra. tentang (makna tiga derajat manusia itu). Aisyah kemudian menjawab bahwa ketiganya merupakan penduduk surga. Aisyah lalu melanjutkan, “Adapun yang dimaksud dengan orang yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah adalah para sahabat yang meninggal ketika Rasulullah hidup. Rasul menyatakan mereka adalah penduduk surga. Kemudian orang yang pertengahan, yaitu para sahabat yang mengikuti jejak Rasulullah. Adapun yang berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri seperti aku dan engkau”.

Kategori pertama, orang-orang yang mendzalimi diri sendiri. Ini kategori paling rendah calon penghuni surga. Menurut Abdullah bin Mas’ud ra., mereka yang berbuat dosa besar selain syirik kepada Allah. Mereka akan masuk ke dalam surga berdasarkan rahmatNya. Imam Zamakhsyari mengatakan mereka yang diberikan Alquran, tapi sedikit berbuat kebaikan. Mereka membaca Alquran, tapi tidak mengamalkannya. Menurut Ibnu al-Jauzy, mereka adalah orang-orang Islam yang masih berbuat maksiat. Sedangkan menurut Hasan al-Basry, mereka yang timbangan amal keburukannya lebih berat dari pada timbangan amal kebaikannya.

Kategori kedua, orang-orang pertengahan. Menurut Abdullah bin Mas’ud ra., mereka yang dihisab dengan hisab yang sedikit, kemudian dimasukkan ke dalam surga. Imam Zamakhsyari mengatakan mereka adalah orang-orang yang membaca Alquran dan mengamalkannya di sebagian besar waktu yang mereka miliki. Menurut Ibnu al-Jauzy, mereka yang berada antara taqwa dan maksiat. Mereka berusaha senantiasa bertaqwa kepada Allah, walaupun kadang terjerumus ke dalam maksiat. Sedangkan menurut Hasan al-Basry, mereka yang timbangan amal keburukannya sama dengan timbangan amal kebaikannya.

Kategori ketiga, yaitu orang-orang yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah Swt.. Mereka adalah orang-orang yang masuk surga tanpa hisab menurut Abdulah bin Masud ra.. Imam Zamakhsyari mengatakan mereka yang bersegera mengamalkan apa yang ada dalam Alquran. Tanpa menunggu waktu. Ibnu al-Jauzy mengatakan, mereka adalah orang-orang yang bertaqwa. Sedangkan menurut Hasan al-Basry mereka yang timbangan amal kebaikannya lebih berat daripada timbangan amal keburukannya.

Mungkin yang masuk dalam kategori ketiga ini adalah orang-orang yang telah dijamin masuk surga sesuai dengan nash Alquran dan Hadis. Seperti sepuluh sahabat yang telah dijamin masuk surga, antara lain: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, Zaid bin Amru dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Atau calon penghuni surga lainnya yang juga disebut dalam nash. Seperti Hasan dan Husain bin Ali, cucu Rasulullah Saw.. Lalu Bilal bin Rabah, Ukasyah bin Muhsin, Ammar bin Yasir, Yasir bin Amir, Jakfar bin Abi Thalib, Amru bin Tsabit, Haritsah bin Suradiqah, Abdullah bin Salam, Umar bin Hamam dan Anas bin Nadhr. Sementara dari kalangan wanita seperti Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Ummu Sulaim, Asia binti Muzahim, istri Firaun, Maryam, ibu nabi Isa as., Hafshah binti Umar bin Khattab dan Sumayyah binti Khayyath.

Adapun umat Islam di akhir zaman, tidak ada yang bisa memastikan akan masuk dalam kategori keberapa. Hanya Allah yang Maha Mengetahui kondisi dan situasi di akhirat nanti. Harapan dalam hati tetap ingin masuk ke dalam kategori terbaik. Kategori mereka yang lebih cepat berbuat kebaikan. Sehingga bisa membersamai Rasulullah saat membuka gerbang surga. 

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah ra., ia berkata, “Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah, RasulNya, menegakkan salat, berpuasa di bulan Ramadan, maka pasti Allah akan memasukkannya ke dalam surga, baik ia berjihad di jalan Allah, atau hanya duduk (tinggal) di tempat ia dilahirkan. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kami beritahukan kabar gembira ini kepada manusia? Rasul lantas bersabda, “Sesungguhnya di surga ada seratus derajat (kedudukan) yang Allah sediakan untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara satu derajat dengan yang lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Apabila kamu meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus. Karena (surga Firdaus) terletak di tengah surga dan posisinya paling tinggi. Aku pernah melihatnya. Di atasnya singgasana Allah Yang Maha Pengasih. Dari (surga Fidaus) mengalir sungai-sungai surga”. 

Setelah berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas amal kebaikan, berupaya taqwa di setiap waktu dan kondisi, dan bertahan menjauhi maksiat, tidak boleh ada keraguan dalam hati untuk menjadi penghuni surga. Bangun pikiran positif Allah akan memasukkan kita ke dalam surga. Karena Allah sesuai dengan prasangka baik hambaNya.

Lalu tidak berhenti untuk meminta yang terbaik di surga. Meminta Firdaus yang tertinggi kepada Allah. Karena Allah juga akan mengamini doa hamba-hambaNya. Allah juga akan memasukkan kita ke dalam surga, bukan karena amal. Tapi karena RahmatNya yang tidak pernah bertepi. Dalam surat Yusuf ayat 87 Allah Swt. berfirman, “…Dan janganlah kalian berputus asa terhadap rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa terhadap rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir”.