Jihad Ibadah di Bulan Dzulhijjah

وَالۡفَجۡرِۙ وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ

Artinya: “Demi waktu fajar. Dan demi malam yang sepuluh” (QS. Al-Fajr ayat 01 sd 02).

Bagian dari hikmah Allah Swt., ketika memilih waktu tertentu menjadi lebih utama dibandingkan waktu lainnya. Atau mengistimewakan satu tempat, dibanding tempat lain. Seperti tanah haram di Mekkah, yang dimuliakan dari tanah yang lain di bumi. Atau kemuliaan sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Dibanding seluruh malam yang ada, di bulan selain Ramadan. Atau dibanding sepuluh malam pertama, atau sepuluh malam pertengahannya. sepuluh malam terakhir Ramadan lebih istimewa.

Secara khusus Rasulullah Saw. meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan, dibanding malam-malam biasa. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, dari Aisyah ra. disebutkan, “Sesungguhnya Rasulullah Saw. meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, tidak seperti biasanya di malam-malam yang lain”. Hal tersebut dilakukan karena ada satu malam utama di sepuluh terakhir. Malam mulia. Nilai satu ibadah di dalamnya sama dengan ibadah selama seribu bulan. Malam al-Qadar.

Bila sepuluh terakhir Ramadan terkait dengan waktu malam, ternyata Allah juga menyediakan siang yang terbaik. Seperti di bulan Ramadan, siang terbaik ini juga berjumlah 10 hari. Cuma letaknya bukan di akhir bulan. Tapi di awal bulan. Bukan di bulan Ramadan. Tapi di bulan Dzulhiijjah.

Dalam sebuah hadis Riwayat Imam Bukhari dari sahabat Abdullah bin Abbas ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada hari-hari, sebuah amal salih yang dikerjakan didalamnya lebih dicintai Allah, selain hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat lantas bertanya, “walaupun jihad di jalan Allah?” Rasulullah Saw. menjawab, “Walaupun jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak kembali dengan sesuatu apapun.”

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaly ketika menjelaskan hadis ini mengatakan bahwa melaksanakan sebuah amal salih di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, lebih dicintai Allah dibanding melaksanakannya di hari-hari yang lain tanpa terkecuali. Apabila Allah mencintai amal salih di hari-hari ini, berarti Allah lebih mengutamakannya. Karena dalam riwayat yang lain menggunakan ungkapan ‘lebih utama’ bukan ‘lebih dicintai’. Apabila melaksanakan sebuah amal didalamnya lebih utama dan lebih dicintai Allah, maka derajat sebuah amal salih yang sederhana, menjadi lebih utama di sisi Allah saat sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dibanding melaksanakan sebuah amal salih yang utama, di hari lain.”

Ibnu Rajab lalu menambahkan, “Oleh karena itu para sahabat membandingkan kualitas amal di hari-hari tersebut dengan berjihad di jalan Allah Swt.. Rasul Saw. lalu menegaskan bahwa hanya jihad terbaik yang bisa menandinginya. Yaitu jihad yang menghasilkan syahid di jalan Allah Swt.. Seorang yang berperang dengan mengeluarkan hartanya kemudian syahid di medan tempur. Bila tidak, atau bila dibandingkan dengan jihad yang lain, selain syahid di jalan Allah, maka kualitas sebuah amal salih yang dilaksanakan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah masih lebih istimewa.

Jihad sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah ada 14 tingkatan. Dibagi ke dalam empat kategori. Paling istimewa adalah jihad dengan harta dan jiwa di medan pertempuran, kemudian meraih gelar syahid. Selain itu, sebuah amal salih yang dilaksanakan di sepuluh pertama Dzulhijjah masih lebih utama dan lebih dicintai Allah Swt..

Amal salih tersebut masih lebih utama dibanding jihad menuntut ilmu, jihad dalam mengamalkan ilmu, jihad dalam berdakwah dan menyebarkan ilmu, serta jihad untuk sabar menghadapi kesulitan dalam berdakwah.

Amal salih di sepuluh awal Dzulhijjah juga lebih dicintai Allah Swt. dibanding jihad menolak syubhat dan syahwat, serta jihad melawan orang kafir, munafik, kedzaliman dan kemusyrikan, yang dilaksanakan menggunakan hati, jasad serta harta, namun tidak mendapatkan predikat syahid.

Selain lebih dicintai dan lebih utama, dalam riwayat sahih lainnya, disebutkan bahwa amal salih yang dilakukan di sepuluh pertama bulan Dzulhijjah menjadi ‘lebih suci’ dan ‘lebih besar’ pahalanya di sisi Allah Swt.. Seperti dalam riwayat Ad-Dârimy. Intinya, sebuah amal salih yang dilaksanakan di dalamnya, maka di sisi Allah Swt. amal tersebut menjadi lebih dicintai, lebih utama, lebih suci dan lebih besar pahalanya dibanding hari-hari yang lain dalam satu tahun.

Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah juga ditegaskan oleh para ahli tafsir. Ketika menafsirkan sumpah Allah Swt. di dalam surat Al-Fajr ayat 2, “Dan demi malam yang sepuluh” Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksudnya adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan ulama lainnya. Baik salaf maupun khalaf. Ibnu Katsir juga menyebutkan hadis riwayat Imam An-Nasâ’iy, dari sahabat Jabir ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Maksud sepuluh (dalam surat Al-Fajr ayat 2) adalah sepuluh pertama Idul Adha, hari puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dan hari berqurban (10 Dzulhijjah)”. Tafsir Ibnu Katsir ini juga menjadi pendapat mayoritas ahli tafsir.

Di dalam surat al Hajj ayat 20 juga mengandung penjelasan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah Swt berfirman, “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan, atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan untuk orang yang sengsara lagi fakir”.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud hari-hari yang ditentukan untuk menyebut nama Allah didalamnya adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Abbas, Abu Musa Al-Asy’ari dari kalangan sahabat, serta Mujahid, Sa’id bin Jubair, Atha’ bin Abi Rabah, Qatadah, dll. Juga pendapatnya Mazhab Syafii dan sebagian Mazhab Hanbali.

Ketika memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka kita sedang memasuki hari-hari utama di sisi Allah Swt.. Memasuki hari-hari yang Allah telah bersumpah di dalamnya. Hari-hari yang diminta oleh Al-Quran untuk menyebut nama Allah secara tegas. Bila sepuluh malam terakhir Ramadan, adalah malam-malam terbaik dalam satu tahun. Maka sepuluh pertama bulan Dzulhijjah adalah siang-siang terbaik. Kualitas satu amal salih di dalamnya hanya bisa dikalahkan dengan jihad terbaik, jihad yang menghasilkan syahid bagi yang melaksanakannya.

Bila ada yang bertanya, mana yang terbaik? Apakah sepuluh hari pertama Dzulhijjah atau sepuluh terakhir Ramadan? Maka para ulama menjawab bahwa siang hari di sepuluh pertama bulan Dzulhijjah lebih baik dari siang hari di sepuluh terakhir bulan Ramadan. Dan malam hari di sepuluh terakhir Ramadan lebih baik dari malam hari di sepuluh terakhir Dzulhijjah. Sudah seharusnya ketika kita memaksimalkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan, maka harus kita barengi dengan jihad ibadah di siang sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Memang ada hadis riwayat Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada hari-hari yang lebih Allah cintai untuk melaksanakan ibadah di dalamnya selain sepuluh hari di bulan Dzulhijjah. Satu kali puasa di dalamnya setara dengan puasa satu tahun dan sekali melaksanakan salat malam didalamnya setara dengan salat malam yang dilaksanakan di malam al-Qadar”.

Kalau seandainya hadis ini shahih, maka keistimewaan siang dan malam di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah mengalahkan keistimewaan siang dan malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Namun beberapa ulama hadis menilai hadis ini lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Walaupun demikian, ada ulama yang lebih mengutamakan sepuluh pertama Dzulhijjah. Seperti Syaikh Az-Zarkasy dalam kitab Asnâ al-Mathâlib. Menurutnya, sepuluh pertama Dzulhijjah lebih utama karena letaknya di salah satu bulan yang diharamkan Allah Swt., bulan Dzulhijjah. Di dalamnya menggabungkan dua ibadah utama. Ibadah haji dan ibadah Qurban.

Lalu, amal apa yang dianjurkan saat memasuki sepuluh pertama Dzulhijjah. Secara umum dalam hadis Bukhari tidak diklasifikasikan amalan khusus. Hanya disebutkan amal salih. Sementara amal salih dalam Islam mencakup semua amal hati dan amal anggota badan dalam rangka mencari ridha Allah semata, dan dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat Islam yang disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah.

Terkait dengan arti amal salih tersebut, Allah Swt berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 110, “Katakanlah olehmu (Muhammad) sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahwa sesungguhnya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. Dan barangsiapa yang ingin bertemu Rabbnya maka hendaklah melaksanakan amal salih dan tidak menyekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.”

Berarti, semua perbuatan yang dilaksanakan oleh seorang manusia, apapun itu, asal dilaksanakan dengan ikhlas, sesuai dengan syariat Islam, dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt., lalu dilaksanakan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka pahalanya melebihi pahala jihad selain syahid. Termasuk perbuatan hati dalam rangka mencari ridha Allah Swt.. Seperti sabar, tawakkal, qanaah, tawaddhu, dll. Ini secara umum.

Adapun secara khusus, dalam riwayat Thabrani disebutkan bahwa salah satu amal yang terkait dengan sepuluh pertama bulan Dzulhijjah adalah memperbanyak tasbih, tahlil, takbir dan tahmid. Rasulullah Saw. bersabda, “Tiada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan beramal di dalamnya lebih dicintai Allah selain sepuluh hari di bulan Dzulhijjah. Maka perbanyaklah tasbih, tahmid, tahlil dan takbir” (HR. Thabrani).

Rasulullah Saw. juga menganjurkan umatnya untuk berpuasa di tanggal 9 Dzulhijjah, yang disebut dengan nama puasa Arafah. Dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Qatadah al-Anshary ra., ketika Rasulullah Saw. ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab, Puasa Arafah berfungsi menghapus dosa tahun lalu dan tahun depan…”

Lalu melaksanakan salat Idul Adha. Dalam surat Al-Kautsar ayat 2, Allah Swt. berfirman, “Maka laksanakanlah salat untuk Rabbmu dan berkurbanlah”. Menurut Qatadah dan Ikrimah bahwa maksudnya adalah salat Idul Adha, sebagaimana dalam tafsir Al-Qurthuby. Salat Idul Adha menjadi utama karena menurut Syaikh Zakaria Al-Anshary dalam kitab Asnâ al-Mathâlib bahwa salat sunnah itu dua jenis. Jenis yang disunnahkan pelaksanaannya dan yang tidak. Salat Idul Adha, sebagaimana Idul Fitri adalah salat sunnah paling utama yang disunnahkan untuk berjamaah.

Kemudian berqurban saat tanggal 10 Dzulhijjah. Dari seluruh rangkaian ibadah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah, berqurban adalah merupakan ibadah terbaik sesuai dengan tuntutan waktunya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada sebuah amal yang dilaksanakan anak Adam pada hari Qurban kecuali mengalirkan darah (hewan qurban yang disembelih). Dan sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, rambut-rambutnya dan bulu-bulunya. Dan darah Qurban akan sampai duluan kepada Allah sebelum menetes di tanah. Maka hiasilah dirimu dengan Qurban” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bagi yang melaksakan ibadah haji, maka sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu tarwiyah atau bermalam di Mina, waktu Wukuf di Arafah, waktu bermalam di Muzdalifah sambil mencari batu, waktu melontar jumrah aqabah, waktu tahallul sughra, serta waktu tawaf ifadah dan sa’i. Dimana masing-masing memiliki keistimewaannya tersendiri.

H. Iswan Kurnia Hasan, Lc.MA.