Masjid Daarussalam, masjid milik Alquran Institute Banggai (AQiB) memiliki imam baru. Imam baru itu bernama lengkap Jam’an Abd. Latif. Sebelum menjadi seorang hafiz atau penghafal Alquran, rupanya Jam’an remaja pernah malas bersekolah.
Bagaimana sosok pria asal Donggala ini? Berikut profilnya.

Maja, begitu nama kecil atau sapaan Jam’an Abd. Latif. Pria kelahiran Desa Lende, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala ini lahir pada 25 Desember 1988. Ibunya bernama Syarifah Hany dan bapaknya Abdul Latif Sahajun.

Jam’an adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Dari hasil pernikahannya dengan Suciati S. Makka pada tahun 2016, keduanya telah dikarunia dua anak, yang pertama Hany Fakhitah lahir 28 September 2017 dan Syaikh Ahmad Ar Raysuni, lahir 25 Maret 2019.

Maja kecil bersekolah SDN 1 Lende (lulus 2000). Lalu, melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Alkhairaat Palu (lulus 2004) dan masuk Madrasah Aliyah Alkhairaat Palu lulus tahun 2008. Di madrasah aliyah, Maja menyelesaikan pendidikan selama empat tahun. Mestinya, Maja lulus tahun 2007.

Selama setahun, Maja tidak bersekolah. Ia lebih suka bebas, malas bersekolah. Ketika itu, Maja belum benar-benar paham untuk apa bersekolah. “Nanti di madrasah aliyah itu baru mengerti arti sekolah,” tutur Jam’an Abdul Latif kepada Tim Publikasi Alquran Institute Banggai, Ahad (27/9/2020).

Setelah menyelesaikan bangku madrasah aliyah, Maja tidak langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ia memilih bekerja. Maja bekerja di koperasi simpan pinjam di Provinsi Gorontalo. Ia hanya bekerja selama kurun waktu selama tujuh bulan. Bahkan, ia diangkat sebagai manajer di koperasi tersebut.

Merasa tidak nyaman dengan pekerjaan itu, Maja kembali ke Palu. “Pulang ke Palu, saya masuk tentara tujuh kali, tapi tidak lolos juga. Lalu masuk security di Palu selama dua tahun. Masuk security langsung diterima,” kata Maja lalu tertawa ringan.
Setelah dua tahun bekerja menjadi security, Maja mencoba pekerjaan lain. Ia masuk bekerja di PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Donggala yang berada di Palu.

Di tempat barunya ini, Maja hanya bekerja selama enam bulan saja.
Nah, ketika bekerja di PDAM, ia mendapatkan hidayah. Di sinilah awal mula perubahan nasibnya. Saat bekerja di PDAM Donggala, ia didatang pamannya dari Kairo. “Beliau menyuruh saya untuk kuliah syariah. Saya sempat menolak, tidak perlu kuliah, karena saya bisa kuliah di sini (Palu). (Lagi pula) Sudah mapan, karena menjanjikan (pendapatan) untuk masa depan,” kisah Jam’an.

Di tengah perbincangan dengan sang paman, Jam’an mendapat wejangan bahwa mereka adalah keturunan ulama. Karena keturunan ulama, maka harus kuliah. Ungkapan sang paman, Jam’an tidak percaya.

Bagaimana mungkin ia menjadi seorang ulama, perilakunya sebagai perokok sepertinya tidak mungkin status ulama itu dapat diembannya. Jam’an bersyukur, meskipun dirinya perokok, tapi tidak pernah mabuk apalagi memakai narkoba.
Paman Jam’an adalah lulusan doctor di Mesir, namanya Ustad Khairan M. Arif. Ustad Khairan sekarang di Jakarta.

“Beliau menawarkan melalui Ustad Iswan Kurnia Hasan, sehingga saya bisa di Alquran Institute Banggai (sekarang). Dari tawaran (paman) itu, lalu, lanjut studi di Alazhar Makassar tahun 2011. Saya mengikuti studi iddad tuadz, selama setahun lebih,” ceritanya.

Setelah setelah di Alazhar Makassar, Jam’an menjadi peserta terbaik dari Palu. Sehingga, ia bisa melanjutkan kuliah di Annuaimi Jakarta, kampus asa Kuwait. “Tapi, saya tidak selesai, gagal dan masuk kembali. Tepatnya tahun 2013. Karena belum tunttas di 2012, maka dipindahkan di cabang Annuaimi di Tangerang,” kata dia.

“Ketika berada di Makassar, dalam kurun waktu setahun dapat menyelesaikan hapalan tiga juz. Ternyata sampai di Jakarta, tidak ada apa-apanya. Tapi, Alhamdulillah, selesai setoran (hapalan), selesai ziyadah 30 juz di Jakarta,” tuturnya.

Di Annuami pun, tidak tuntas. Ia lalu pindah ke Bandung. Di Bandung menyelesaikan studi strata satu di STAIN Sabili Bandung. “Saya juga mengikuti kuliah di Nurul FIkri Lembang. Jadi, ada dua perkuliahan. Di Ma’had Nurul Fikri Lembang, tidak selesai. Tapi saya selesai di STAI Sabili Bandung, saya diwisuda tahun 2015,” ujar dia.

Setelah selesai pendidikan strata satu, Jam’an kembali ke Jakarta mengajar di Allaman Quran Nusantara. Di lembaga ini, tempat sang paman mengajar. “Saya memegang rumah tahfiz. Saya menggantikan salah satu pengajar yang melanjutkan studi di Mesir,” katanya.
Singkat cerita, tahun 2016, Jam’an kembali ke Palu. Di tahun inilah, Jam’an menikah dengan gadis asal Parigi.

Istri Jam’an berstatus sebagai ASN di Kemenag Parigi. Setelah menikah, kembali ke Bogor, karena tengah studi strata dua di Bogor. Kebetulan sang istri lebih dahulu masuk studi strata dua di Institute Azzkiah Bogor. Di Institute Azzkiah Bogor, Jam’an masuk melalui jalur tahfiz. “Alhamdulillah, saya dapat beasiswa, tapi setengahnya,” kata Jam’an.

Setelah bencana yang memporak poranda Palu, Sigi dan Donggala, Jam’an belum melanjutkan pendidikannya. Ia meminta cuti tanpa batas. “Untuk saat ini, saya tidak aktif (kuliah). Sama seperti istri saya, gara-gara pandemi (Covid-19), jadi tidak berjalan dengan baik, padahal tinggal tesis,” kisah Jam’an.

Selama di Bogor, ia mengajar di Pesantren Alhikmah Bogor. Di pesantren ini, Jam’an mengajar tahfiz. Pesantren ini sungguh luar biasa, terkenal hingga mancanegara. Metode yang diterapkan sangat luar biasa. Ditambah kemauan dan mentalitas yang siap. Santrinya bisa menyelesaikan 30 juz dalam jangka waktu singkat tiga bulan dan maksimal setahun.

Jarang ada yang menyelesaiakn dalam jangka waktu setahun.
Jam’an Abd. Latif selama berada di Jakarta, ia pernah mengimami Masjid Disentuari, di lingkungan KPK. Ia menjadi imam khusus Ramadhan selama dua periode atau dua tahun. Kemudin, di mesjid komplek Raflesia. Ia juga pernah menjadi imam Ramadhan di Bea Cukai Jakarta Timur.

Jam’an Abdul Latif adalah seorang hafiz kategori mutkin. Mutkin itu hapalan di luar kepala tanpa melihat Alquran.
Selanjutnya, Jam’an Abdul Latif akan menjadi imam di Masjid Daarussalam, Alquran Institute Banggai.

Disiplin ilmu yang dimiliki Jam’an Abdul Latif akan menambah daftar orang-orang terbaik di Alquran Institute Banggai untuk didistribusikan kepada warga di daerah ini. Amin

SOSOK JAM’AN ABD. LATIF, IMAM MASJID DAARUSSALAM

Foto: Jam’an Abdul Latif

BIODATA
Nama Lengkap : Jam’an Abdul Latif
Tempat Tanggal Lahir : Desa Lende, 25 Desember 1988
Nama Ibu Kandung : Syarifah Hany
Nama Bapak Kandung : Abdul Latif Sahajun
Nama Istri : Suciati S. Makka
Nama Anak :

  1. Hany Fakhitah
  2. Syaikh Ahmad Ar Raysuni
    PENDIDIKAN
    SD : Lulus 2000
    Madrasah Aliyah Alkhairaat Palu : Lulus 2004
    Madrasah Aliyah Alkhairaat Palu : Lulus 2008
    Strata Satu STAI Sabili Bandung : Lulus 2015
    Strata Dua Institute Azzkiah Bogor : Belum selesai
    HAFIZ KATEGORI MUTKIN

*Sumber: Wawancara Eksklusif Jam’an pada Ahad Tanggal 27 September 2020