Oleh: H. Iswan Kurnia Hasan, Lc.MA.
 
 
Kata Asyura murni lahir dari gramatikal Islam. Kata tersebut dikenalkan langsung oleh Rasulullah dalam beberapa hadis shahih. Menurut Imam Nawawi, Asyura dalam bahasa Arab adalah hari yang kesepuluh di bulan Muharram. Namun bentuk katanya berubah untuk mengagungkan hari tersebut. Seharusnya menggunakan kata “Âsyir” yang berarti kesepuluh. Dirubah menjadi “Âsyûrâ” dengan tujuan mengagungkan.
 
Kenapa diagungkan? Karena 10 Muharram telah menjadi hari istimewa sejak zaman Nabi Musa as.. Juga menjadi hari agung bagi Yahudi dan Nasrani. Setelah Islam datang, tradisi Asyura dilanjutkan dan dijadikan salah satu hari besar Islam.
 
Bagi umat Islam, 10 Muharram adalah hari untuk melakukan puasa sunnah. Dikenal dengan nama Puasa Asyura. Fungsinya untuk menghapus dosa yang telah dilakukan selama satu tahun. Dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Qatadah ra., ia berkata, “Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang puasa Asyura”. Beliau menjawab, “Keutamaannya menghapus dosa satu tahun yang telah lewat.”
 
Puasa Asyura pernah menjadi puasa yang diwajibkan bagi umat Islam. Rasulullah Saw. bersama para sahabat sempat melaksanakan kewajibannya sebelum hijrah, dan satu tahun setelah hijrah. Namun setelah turun perintah melaksanakan puasa Ramadan, hukumnya menjadi sunnah.
 
Walaupun demikian, puasa Ayura tetap menjadi puasa yang istimewa bagi Rasulullah. Dalam riwayat Muslim disebutkan, sahabat Abdullah bin Abbas ra. pernah ditanya tentang keutamaan Puasa Asyura. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah melaksanakan satu puasa yang ingin dicari keutamaannya, melebihi hari-hari yang lain, kecuali hari ini (Asyura).”
 
Oleh karena itu, bila datang 10 Muharram, Rasulullah Saw. memiliki tradisi unik menyambutnya. Sebagaimana yang diceritakan oleh seorang sahabat wanita yang bernama Ar-Rabi’ Binti Afra. Kata Ar-Rabi’ “Bila memasuki Asyura, Rasulullah mengutus beberapa orang ke kampung-kampung warga Anshar di Madinah, sambil berpesan, “Barangsiapa yang melaksanakan puasa Asyura, hendaklah ia menyempurnakannya (sampai berbuka). Barang siapa yang tidak berpuasa, maka dilanjutkan untuk tidak berpuasa. Maka kami berpuasa saat Asyura, dan mengajak anak-anak kami juga berpuasa. Kami mengajak anak-anak ke masjid dan memberikan mereka mainan (agar kuat berpuasa). Bila mereka ingin makan, kami hanya akan memberikannya ketika berbuka” (HR. Muslim).
 
Tidak saja bagi umat Islam, Asyura juga hari penting bagi agama-agama langit yang diturunkan. Kehadirannya juga diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani. Termasuk bagi masyarakat jahiliah, Asyura juga hari agung. Mereka melakukan tradisi dan ritual tertentu saat menyambutnya. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai Hari Raya.
 
Seperti yang disampaikan oleh Rasulullah dalam hadis riwayat Bukhari dari sahabat Aisyah ra., bahwa suku Quraisy sejak dulu memiliki tradisi berpuasa saat Asyura. Rasul pun berpuasa bersama mereka. Ketika hijrah ke Madinah, Rasul masih puasa dan memerintahkan sahabat juga berpuasa. Sampai akhirnya datang kewajiban Puasa Ramadan pada tahun kedua hijriah. Rasul akhirnya menjadikan Asyura puasa sunnah. Boleh berpuasa dan boleh juga tidak.
 
Selain berpuasa, ada juga tradisi lain yang dilakukan suku Quraisy ketika memasuki Asyura. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa saat 10 Muharram, mereka memiliki kebiasaan untuk menutup dinding Ka’bah.
 
Lalu Asyura yang berkembang di Umat Yahudi. Ibnu Abbas ra. dalam riwayat Muslim menceritakan ketika pertama sampai di Madinah, Rasul melihat orang Yahudi berpuasa Asyura. Beliau lalu bertanya, “Kenapa mereka berpuasa?” para sahabat menjawab karena pada 10 Muharram Allah Swt. menenggelamkan Firaun yang mengejar Nabi Musa dan Bani Israil. Sebagai wujud syukur, Nabi Musa lantas berpuasa di hari ini. Tradisi puasa itu kemudian dilanjutkan secara turun temurun. Rasul lalu menegaskan, “Saya seharusnya yang lebih berhak terhadap Nabi Musa dibanding Yahudi”. Maka Rasul lantas memerintahkan para sahabat berpuasa Asyura.
 
Penduduk Khaibar yang mayoritas Yahudi juga menjadikan 10 Muharram sebagai hari raya di zaman Rasul. Di hari itu, para wanita memakai baju terbaik dan mengenakan perhiasan sebagai penghormatan terhadap Asyura. Sama seperti saat Idul Fitri bagi Umat Islam.
 
Bukan hanya Yahudi, ternyata agama Nasrani juga mengagungkan 10 Muharram. Dalam riwayat Muslim, Ibnu Abbas menceritakan dialog yang terjadi ketika Rasulullah berpuasa Asyura. Saat itu para sahabat mengatakan bahwa Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Rasul justru melegalkan sunnah Asyura. Namun agar terlihat berbeda, Rasul lalu berencana menambah puasa Tâsû’â’ atau 9 Muharram di tahun setelahnya.
 
Beberapa penggalan hadis di atas memberikan kita satu makna sejarah yang penting. Sejak masa Nabi Musa as., Asyura telah dijadikan hari agung. Tradisi itu kemudian berlanjut ke pemeluk Nasrani. Bangsa jahiliah juga menghormati kehadiran Asyura dengan berpuasa di dalamnya. Melihat tradisi itu, Rasulullah lalu melegalkannya dalam syariat Islam dan menjadikan puasa pada 10 Muharram sebagai puasa sunnah.
 
Hal Ini memberikan gambaran kepada kita tentang dialektika Islam yang sebenarnya sangat ramah dengan tradisi masyarakat yang ada. Sepanjang tradisi itu tidak menyalahi nash Alquran, sunnah dan ijma. Selama tradisi itu bersifat global. Sejauh maknanya tidak bias, maka Islam melegalkannya.
 
Bahkan menurut Imam Ibnu Taimiyah, istilah-istilah yang disebutkan dalam Alquran dan Sunnah bisa kita ketahui maknanya dengan menggunakan tiga pendekatan. Pendekatan secara etimologi atau makna leksikal. Seperti kata matahari, bulan dan bintang. Atau pendekatan secara syar’i. seperti makna kata muslim, mukmin dan kafir. Pendekatan yang ketiga berdasarkan tradisi yang berlaku di daerah setempat. Seperti memaknai kata ijab dan qabul. Akan berbeda sesuai dengan tradisi jual beli di masing-masing tempat.
 
Sejurus dengan itu, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa seseorang yang hanya memindahkan fatwa yang ada di buku kepada manusia, tanpa memperhatikan budaya lokal, habitat, waktu, kondisi psikologis dan sosiologis pihak yang diberikan fatwa, maka fatwa itu digolongkan sebagai fatwa yang sesat. Bahaya dari fatwa yang hanya dinukil dari buku bagi agama, melebihi bahaya seorang dokter yang melakukan mall praktek karena hanya mengandalkan diktat kedokteran.
 
Inilah makna agung itu. Makna yang mungkin tersembunyi setiap 10 Muharram menghampiri kita. Asyura bukan hanya datang untuk mengajarkan kita tentang puasa sunnah. 10 Muharram juga mengajarkan makna kebhinnekaan yang telah terjaga sejak zaman Nabi Musa. Tiga agama mengagungkan satu hari yang sama, hari Asyura.
 
Asyura juga mengajarkan dialektika Islam yang sangat santun dengan budaya lokal. Tradisi 10 Muharram yang telah ada sejak zaman Nabi Musa, yang secara turun temurun tetap berlanjut sampai masa jahiliah, tetap dipertahankan oleh Islam. Bahkan ditambah keagungannya. Namun diberikan porsi yang sesuai dengan jatidiri Islam.
 
Itulah sebabnya menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany, pada awalnya Rasulullah ingin melaksanakan puasa Asyura, sebagaimana yang telah dilakukan Ahli Kitab. Akan tetapi setelah peristiwa Fathu Makkah dan Islam telah mengakar di jazirah Arab, Rasulullah ingin memperingati Asyura dengan cara yang berbeda. Cara Islam. Itulah sebabnya ada riwayat yang mengatakan bila Rasul bertemu dengan Asyura di tahun setelahnya, beliau akan berpuasa di hari kesembilan bulan Muharram. Namun tidak kesampaian.
 
Atau riwayat Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Abbas ra. tentang tatacara berpuasa Asyura. Rasulullah Saw. bersabda, “Berpuasalah pada hari Asyura. Dan bedakanlah cara kamu berpuasa dengan orang Yahudi. Berpuasalah satu hari sebelumnya, atau satu hari setelahnya.”
 
Puasa Asyura yang sesuai dengan jatidiri umat Islam memiliki beberapa opsi. Opsi pertama berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram sesuai dengan hadis riwayat As-Suyuthi. Opsi kedua berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sesuai dengan hadis riwayat Imam Muslim. Opsi ketiga berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram sesuai hadis riwayat Imam Ahmad. Dan yang terakhir berpuasa pada taggal 10 Muharram saja, sesuai hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.