Oleh: H. Iswan Kurnia Hasan, Lc. MA.
 
 
Bangsa Arab sebelum Islam telah menggunakan nama-nama bulan untuk penanggalan satu tahun. Sekalipun berbeda dengan yang ada di kalender hijriah saat ini. Seperti bulan Rajab disebut al-Ashamm, bulan Syakban ‘Âzil, bulan Ramadan Nâtiq, bulan Syawwal Wa’il, dan lain-lain. Penamaan bulan-bulan hijriah yang dikenal saat ini, menurut buku al-Mausû’ah al-‘Arabiyyah al-‘Âlamiyyah (Ensiklopedi Arab Internasonal) dimulai pada abad kelima Masehi. Di masa buyut kelima Rasulullah Saw., yang Bernama Ka’b bin Murrah.
 
Setelah Islam, nama-nama bulan tersebut tetap digunakan. Bahkan tradisi yang terkait dengan bulan tertentu juga dipertahankan. Karena ingin menjaga kearifan lokal yang telah berlaku sejak dulu. Islam hadir bukan untuk memberangus adat dan tradisi. Tapi menghormati dan menyelaraskannya dengan nilai-nilai Islam. Apa yang sesuai dipertahankan. Apa yang tidak sesuai, diberikan solusi yang lebih baik.
 
Dari dua belas bulan dalam satu tahun penanggalan Hijriah, ada bulan-bulan tertentu yang dikeramatkan. Bahasa Alqurannya ‘al-Asyhur al-Hurum’  atau bulan-bulan yang diharamkan. Dalam surat At-Taubah ayat 36, Allah Swt. berfirman,”Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas, sebagaimana ketetapan Allah saat menciptakan langit dan bumi. Diantaranya, ada empat bulan yang diharamkan. Itulah ketetapan agama yang lurus. Maka janganlah kamu mendzalimi diri sendiri (dalam empat bulan tersebut). Dan perangilah semua kaum musyrik sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya. Dan Allah bersama orang-orang yang bertakwa”.
 
Ayat ini hanya menjelaskan pembagian bulan-bulan yang diharamkan. Ada empat, dari dua belas bulan. Tanpa menyebutkan secara definitif. Hadis yang mendefinitifkannya. Dari sahabat Abu Bakrah ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya waktu telah berputar sesuai kodratnya. Seperti saat Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan yang diharamkan. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Serta bulan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudhar, terletak antara bulan Jumadil Tsani dan Syakban” (HR. Bukhari).
 
Bulan yang diharamkan dimulai dari Muharram. Bulan urutan pertama dalam satu tahun penanggalan hijriah. Sebagian ulama berpendapat bulan ini yang terbaik di antara empat bulan yang diharamkan. Dalam kitab Lathâif al-Ma’ârif, Ibnu Rajab Al-Hambaly mengatakan para ulama berbeda pendapat mengenai bulan yang paling utama dari empat bulan yang diharamkan Allah. Imam Hasan dan sebagian ulama khalaf mentarjih bulan Muharram menjadi bulan yang paling utama.
 
Bulan Muharram telah disucikan oleh bangsa Arab sejak zaman jahiliah. Mereka memberi nama lain Muharram yaitu Al-Ashamm, atau bulan yang tuli. Disebut demikian, karena memasuki Muharram telinga orang Arab harus tuli dari bunyi senjata yang beradu di medan tempur. Atau suara pasukan yang sedang menuju medan perang. Tradisi jahiliah melarang perang di bulan Muharram. Sehingga disebut bulan yang tuli.
 
Dalam riwayat Imam Nasai dari sahabat Abu Dzar Al-Ghiffary ra., ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Malam apakah yang terbaik? Bulan apakah yang terbaik? Rasul Saw. menjawab, “Malam yang terbaik adalah akhirnya. Dan bulan yang terbaik adalah bulan yang kamu sebut Muharram”.
 
Menurut Ibnu Rajab, hadis ini mengklasifikasikan Muharram menjadi bulan terbaik. Namun peringkatnya di bawah Ramadan. Bulan Ramadan tetap yang paling mulia dari semua bulan. Peringkat dua setelah Ramadan diduduki bulan Muharram.
 
Karena keutamaanya. Rasulullah saw. juga menganjurkan untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Ibadah puasa yang terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah (yang bernama) Muharram. Dan salat terbaik setelah salat wajib adalah salat malam”.
 
Muharram menjadi agung dalam hadis ini, karena Rasulullah Saw. menyamakan kualitas salat malam dibandingkan salat wajib, sama dengan kualitas puasa di bulan Muharram bila dibandingkan dengan puasa Ramadan.
 
Kedua bulan Rajab. Atau bulan yang ketujuh. Ada peristiwa besar di bulan ini yang terjadi di zaman Rasulullah, dan diperingati oleh umat Islam setiap tahunnya. Perjalanan Isra, dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. bersama malaikat Jibril. Dan Mi’raj, dari Masjidil Aqsha ke Sidrah al-Muntahâ.
 
Kata Rajab menurut Ibnu Faris dalam buku Mu’jam Maqhâyis al-Lughah berarti sesuatu yang saling mendukung, saling menguatkan dan mengagungkan. Dinamakan Rajab, karena orang Arab jahiliah mengagungkannya. Islam juga melanjutkan keagungan bulan Rajab setelah Rasulullah diutus, dengan menjadikannya salah satu bulan yang diharamkan.
 
Ketika masuk bulan Rajab, orang jahiliah memiliki beberapa tradisi untuk mengagungkannya. Seperti tradisi Munasshil al-Asinnah, yang bila diterjemahkan artinya mencabut gigi. Dalam riwayat Bukhari, Abi Raja’ al-Atharidy menceritakan kebiasaan bangsa Arab di bulan Rajab sebelum datangnya Islam, “Dulu kami menyembah berhala. Apabila kami menemukan berhala lain (selain yang dimiliki), kami membuang yang lama dan mengambil yang baru. Bila tidak ada berhala dari batu, kami membuat berhala dari pasir yang dicampur dengan susu kambing. Lalu kami melaksanakan thawaf di sekelilingnya. Apabila masuk bulan Rajab, kami berkata, “Masuk waktu mencabut gigi. Kami mencabut mata tombak dan mata panah dan tidak mengasahnya di bulan Rajab.”
 
Mata tombak dan mata panah yang biasa dipakai untuk berperang, diibaratkan gigi manusia yang berfungsi mengunyah makanan. Saat masuk Rajab, mata tombak dilepas dari bilahnya, mata panah dilepas dari tangkainya dan tidak diasah, seperti mencabut gigi. Karena menggunakan senjata untuk membunuh dan menumpahkan darah dilarang.
 
Ada juga al-‘Atîrah atau Rajabiah. Tradisi menyembelih hewan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt., pada sepuluh hari pertama bulan Rajab. Setelah Islam, tradisi ini hanya dianut oleh Mazhab Syafi’i. Mereka merujuk hadis Muhnif bin Sulaim ra., ia berkata, “Kami melaksanakan wukuf bersama Rasulullah di Arafah. Kemudian beliau bersabda, “Wahai manusia, seyogianya setiap keluarga dalam satu tahun menyembelih qurban dan al-‘Atîrah” (HR. al-Baihaqi dan Ahmad).
 
Dalam kitab al-Majmû’ Imam Nawawi mengatakan, “Pendapat yang benar dan dipilih oleh Imam Syafi’i, dengan bersumber kepada hadis-hadis hahih, menyimpulkan bahwa al-Far’ dan al-‘Atîrah hukumnya tidak makruh. Bahkan dianjurkan. Pendapat ini yang dipilih oleh mazhab kami”.
 
Sementara jumhur ulama dari mazhab Hambali, Hanafi dan Maliki berpendapat tradisi al-‘Atîrah telah dihapus berdasarkan hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak boleh melaksanakan al-Far’ (menyembelih keturunan pertama dari hewan yang dipelihara untuk mencari keberkahan) dan al-‘Atîrah”.
 
Berbeda dengan bulan Muharram, tidak ada sunnah puasa yang terkait dengan bulan Rajab. Bila ada yang ingin berpuasa, maka seperti di bulan lain yang tidak haram. Bisa melaksanakan puasa Senin Kamis, Puasa tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan. Atau puasa Daud. Sehari berpuasa dan sehari tidak. Imam Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan, “Tidak ada hadis sahih yang bisa dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, terkait anjuran berpuasa. Baik secara umum, atau puasa hari tertentu didalamnya”.
 
Ketiga bulan Dzulqa’dah. Dari segi nama ada dua penyebutan. Dzulqa’dah dengan fathah, ini yang sering digunakan. Dan Dzulqi’dah dengan kasrah. Dalam bahasa Arab, berarti waktu untuk duduk. Sebagai bahasa kiasan untuk istirahat sejenak, dan tidak melakukan aktivitas.
 
Di zaman jahiliah, saat memasuki Dzul’qadah, orang Arab memilih untuk menetap di rumah dan menghentikan aktivitas-aktivitas besar yang melibatkan banyak orang. Seperti berperang, berdagang ke luar jazirah, atau mencari sumber pendapatan lainnya. Waktu istirahat di bulan Dzulqa’dah juga bisa dimaknai persiapan untuk menyambut musim haji di bulan setelahnya. Bulan Dzulhijjah.
 
Ada satu sunnah yang terkait khusus dengan bulan Dzulqa’dah. Yaitu melaksanakan umrah. Sebab tiga dari empat perjalananan umrah Rasulullah, dilaksanakan di bulan Dzulqa’dah.
 
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, sahabat Anas bin Malik ra. menyampaikan bahwa Rasulullah telah melaksanakan empat kali umroh. Semuanya di bulan Dzulqa’dah. Kecuali umrah saat Haji Wada’. Umrah yang batal dilaksanakan saat perjanjian Hudaibiyah (tahun 6 Hijriah) di bulan Dzulqa’dah. Umrah satu tahun setelahnya (tahun 7 Hijriah) di Dzulqa’dah. Umrah dari Ji’ranah, saat pembagian harta rampasan perang Hunain (tahun 8 Hijriah) juga di Dzulqa’dah. Hanya umrah terakhir saat Haji Wada’ tidak dilaksanakan di Dzulqa’dah. Sekalipun ada riwayat lain yang mengatakan bahwa Rasulullah mulai mengenakan baju ihram di bulan Dzulqa’dah, saat akan melaksanakan Haji Wada’.
 
Terakhir bulan Dzulhijjah. Bulan yang identik dengan ibadah haji. Banyak keutamaan yang terkait di dalamnya. Bagi yang sedang melaksanakan ibadah haji atau tidak. Baik yang berada di Mekkah dan Madinah, maupun di tempat lain.
 
Bulan Dzulhijjah menjadi utama bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, karena ada sepuluh hari pertama, dari tanggal 1 sampai 10 Dzulhijjah. Seorang yang melaksanakan kebaikan di dalamnya, mendapatkan pahala melebihi orang yang berjihad di jalan Allah. Tanggal 9 Dzulhijjah ada puasa Arafah yang akan menghapus dosa dua tahun sekaligus. Tahun sebelumnya dan sesudahnya. 10 Dzulhijjah juga hari terbaik dalam satu tahun, sebagaimana disebutkan dalam hadis. Ada ibadah qurban di dalamnya yang merupakan ibadah terbaik.
 
Bagi yang melaksanakan haji, maka sejak tanggal 8 Dzulhijjah ada hari tarwiyah, kemudian tanggal 9 Dzulhijjah. Saat dalam satu waktu, keutamaan tempat yaitu Padang Arafah, bersatu dengan keutamaan hari Arafah. Hari saat Allah memberikan ampunan yang paling banyak buat hamba-hamba-Nya dalam satu tahun. Lalu ada mabit di Muzdalifah, melontar jumrah aqabah, mabit di Mina, thawaf ifadah dan rangkaian manasik haji lainnya. Semua dilakukan di bulan Dzulhijjah.
 
Empat bulan ini diharamkan, karena perbuatan baik yang dilakukan di dalamnya akan meningkat pahalanya dibanding bulan lain. Perbuatan buruk juga akan meningkat dosanya. Dalam surat At-Taubah ayat 36 di atas, Allah Swt. mengingatkan, “Janganlah kamu mendzalimi diri sendiri”. Qatadah menafsirkan bahwa sebuah kedzaliman yang dilakukan di bulan-bulan Haram lebih besar dosanya. Dibanding melaksanakan kedzaliman di bulan lain. Walaupun perbuatan dzalim tetap mendapatkan dosa, tapi Allah mengistimewakan sesuatu yang Ia kehendaki”.
 
“Seperti Allah memilih diantara seluruh malaikat, ada malaikat pembawa wahyu. Dari seluruh manusia, ada yang menjadi nabi dan Rasul. Dari seluruh ucapan, ada yang berbentuk zikir. Dari semua tanah di muka bumi, ada yang menjadi masjid. Dari dua belas bulan, ada bulan Ramadan dan empat Bulan Haram. Dari semua hari dalam satu pekan, ada hari Jumat. Dan dari semua malam, ada Lailatul Qadar. Maka agungkanlah apa yang telah diagungkan Allah! Karena mengagungkan apa yang diagungkan Allah hanya dilaksanakan oleh orang-orang yang paham dan berakal!” Tegas Qatadah.
 
Karena kebaikan bertambah pahala dan keburukan bertambah dosa, sehingga hukuman akibat pidana yang dilaksanakan di Bulan Haram juga semakin berat. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmû’ menukil pernyataan Mujahid bahwa Umar bin Khattab ra. menambah hukuman bagi yang membunuh orang di Tanah Haram atau di bulan-bulan Haram dengan membayar diyat di tambah sepertiga. Diyat utuh atau tebusan dengan membayar ganti rugi nyawa bagi keluarga yang dibunuh, dan sepertiga tambahannya karena dilaksanakan di waktu dan tempat yang diharamkan.
 
Di bulan Muharram, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah juga ada hukum khusus yang terkait dengan perang. Ada dua jenis perang. Perang untuk membela diri dan perang untuk ekspansi. Terkait perang membela diri, seluruh ulama sepakat umat Islam diminta mempertahankan diri semaksimal mungkin bila diserang musuh. Tanpa terkecuali di empat bulan yang diharamkan.
 
Adapun perang yang sifatnya ekspansif, menurut Ibnu Katsir para ulama berbeda pendapat. Jumhûr (mayoritas ulama) berpendapat larangan berperang sudah dihapus karena dua hal. Pertama, karena Allah telah memerintahkan untuk berperang melawan orang musyrik, dengan perintah yang bersifat umum. Sesuai yang disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 36. Kedua, dalam sebuah hadis riwayat Muslim dari sahabat Abdullah bin Amru ra., disebutkan Rasulullah dan para sahabat mengepung Thaif selama 40 hari dan 40 malam. Dan pengepungan itu terjadi di bulan Dzulqa’dah. Salah satu bulan bulan yang diharamkan.
 
Sementara menurut sebagian ulama, larangan berperang tidak dihapus sampai hari kiamat. Dengan dalil firman Allah Swt. dalam surat Al-Maidah ayat 2, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan Haram…”
 
Selanjutnya sunnah melaksanakan puasa. Dalam sebuah hadis, seorang dari Bahilah pernah mendatangi Rasulullah Saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang sama menemuimu satu tahun yang lalu”. Rasul lalu bertanya, “Apa yang membuatmu berubah? Bukankah dulu kondisimu lebih baik?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah makan lagi, kecuali saat malam saja sejak aku berpisah denganmu” Rasul kembali bertanya, “kenapa engkau menyakiti dirimu?” Lalu beliau bersabda, “Puasalah di Bulan Sabar (Ramadan) dan satu hari setiap bulan!” Pria itu meminta, “Tambahkan lagi, karena aku masih kuat”. Rasul lalu menambahkan, “Puasalah dua hari setiap bulan!” Pria itu masih meminta tambahan. Di kali terakhir Rasul bersabda, “Berpuasalah di bulan-bulan yang diharamkan dan tinggalkan! Berpuasalah di bulan-bulan yang diharamkan dan tinggalkan! Berpuasalah di bulan-bulan yang diharamkan dan tinggalkan!” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi).
 
Dari hadis ini, jumhur ulama berpendapat disunnahkan untuk berpuasa di semua bulan yang diharamkan tanpa terkecuali. Sekalipun ada ulama yang meragukan hadisnya dan berpendapat bahwa hanya bulan Muharram yang secara khusus disunnahkan untuk berpuasa.
 
Bila dalam dua belas bulan kita tidak bisa istiqamah melakukan kebaikan. Sebagai manusia kita sering lupa dan lalai. Minimal saat memasuki empat bulan yang diharamkan: bulan Muharram, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah, kita bisa terjaga untuk melaksanakan kebaikan semaksimal mungkin. Karena pahala kebaikan bertambah dan dosa keburukan meningkat. Seorang yang berakal dan paham, pasti akan mempergunakan empat Bulan Haram sebagai sarana memperbanyak amal baik. Sementara bagi orang awam, mungkin hanya akan melewatinya seperti bulan lain. Seakan-akan tidak ada yang istimewa.