Langkah Setan Menjerumuskan Manusia

وَلِتَصْغَىٰٓ إِلَيْهِ أَفْـِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱلْءَاخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا۟ مَا هُم مُّقْتَرِفُونَ

Artinya: “Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan” (QS. Al-An’am ayat 113).

Hakikat konflik antara manusia dan setan akan berlangsung sampai hari kiamat. Baik setan yang berbentuk jin maupun setan yang berwujud manusia. Terkadang manusia unggul dengan keikhlasannya kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla . Sehingga bisikan setan tidak berdampak apa-apa. Namun banyak yang terjatuh dalam godaan. Larut dalam maksiat. Ada yang sempat bertaubat. Lalu kembali taat. Namun tidak sedikit yang tetap berkubang dengan maksiat sampai akhir hayat.

Maksiat yang dilakukan oleh manusia tidak hanya terkait dengan setan. Tapi penyebab utamanya justru dari manusia itu sendiri. Karena setan tetap akan selalu menggoda. Ia telah berjanji kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla akan tetap menggoda manusia sampai hari kiamat. Tinggal tergantung manusia. Apakah tetap mempertahankan imannya? Atau menerima setan dengan sukarela.

Setan akan memulai aktivitasnya dengan memberikan bisikan. Sebagai tangga pertama manusia diarahkan untuk berbuat maksiat. Di fase ini sebenarnya yang sangat menentukan. Bila manusia kalah, maka potensi melakukan maksiat akan semakin mudah dan terbuka. Bila manusia bertahan, maka maksiat akan terbendung.

Allah Subhânahu wa Ta’âla melalui ayat di atas memberikan tips sederhana untuk memenangkan pertarungan dengan setan saat memulai aksinya. Iman terhadap Akhirat adalah tameng utama melawan setan di fase pertama. Iman kepada Hari Akhir mendorong manusia meyakini ada pembalasan dari semua perbuatan yang dilakukan di atas bumi. Perbuatan baik akan dibalas dengan setimpal, bahkan lebih. Ujungnya akan berbuah kenikmatan abadi di surga. Sementara perbuatan buruk bisa dimaafkan, atau diberikan balasan yang setimpal dan masuk neraka.

Seseorang yang meyakini adanya balasan. Tidak hanya di dunia tapi berlanjut di akhirat, akan selalu berhati-hati untuk melakukan sesuatu. Ia selalu mengevaluasi perbuatannya sesuai dengan akibat yang akan diterimanya. Sementara orang yang tidak beriman kepada Hari Kebangkitan, pasti tidak akan meyakini ada balasan amal. Mereka merasa bahwa tidak ada kehidupan yang lain selain dunia ini. Sehingga terbentuk sebuah paradigma untuk menikmati hidup di dunia selagi masih bisa. Melaksanakan semua kehendak nafsu selama hayat masih dikandung badan.

Inilah yang membedakan keimanan dengan kekafiran. Maka cara pertama menghadapi setan adalah mempertegas keimanan kepada Hari Kiamat. Bila tidak, maka bisikan setan akan mudah kita terima.

Namun bisikan setan juga bisa hinggap dalam diri orang beriman. Karena saat bisikan datang, bukan justru ditepis secara langsung tapi timbul rasa penasaran. Walaupun dilandasi dengan keimanan. Seperti keinginan untuk mengetahui. Dengan alasan hanya sekedar ingin tahu saja. Setelah itu stop! Tidak akan melanjutkan lagi. Padahal, ketika satu pintu dalam hati sudah terbuka, akan memudahkan untuk membuka pintu yang lain. Makin lama setan akan menguasai diri dan mencampakkan iman dari dalam hati.

Maka Ketika bisikan datang, lawanlah semaksimal mungkin. Jangan menganggap remeh sebuah bisikan dengan dalih kita masih memiliki iman. Kita masih melakukan ibadah wajib. Kita masih berada dalam koridor Islam. Kita masih tetap mengharapkan surga. kita masih takut neraka. Kita masih menginginkan rahmat Allah Subhânahu wa Ta’âla. Sebab bila bisikan diterima, maka akan merangsang rasa senang dalam hati. Sehingga tanpa sadar kita ridha dengan maksiat.

Lalu akhirnya, bisikan setan yang telah masuk, mengajak hati untuk bisa menerimanya, merasa senang terhadapnya. Lalu merangsang hati untuk menyamankan panca indra dan menggerakan jasad untuk melakukannya. Kemudian lahirlah maksiat. Setan akhirnya menguasai hati, pikiran dan anggota badan. Menggeser iman yang ada di dalam hati, memberangus islam yang ada dalam fikiran, dan mengikis ihsan yang biasa dilakukan oleh jasad.

Maka saat pertama kali setan menghampiri. Tolaklah bisikan! Acuhkan godaan! Penuhi hati dengan keimanan terhadap Hari Akhir! Kuatkan memori bahwa semua perbuatan sebesar biji atom akan ada balasannya! Bacalah kembali ayat-ayat yang mengingatkan Hari Kiamat! Karena itulah tameng terhadap godaan, benteng paling kokoh dari bisikan. Jangan pernah mau kalah dengan setan di langkah pertama. Bila tidak, maka maksiat akan terlaksana. Baik kita sadari. Atau tidak.

H. Iswan Kurnia Hasan, Lc.MA.